Tiga Masalah Sanitasi Ini Terjadi di Daerah Bencana

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat tiga masalah sanitasi terjadi di daerah-daerah yang baru terkena bencana seperti Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Sulawesi Tengah (Sulteng). Ketiganya yaitu akses air bersih, adanya jamban, hingga pengelolaan sampah.

Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes Kirana Pritasari mengatakan, masalah akses air bersih hingga air yang dapat diminum merupakan masalah yang paling banyak terjadi di lokasi-lokasi bencana. Selain itu, dia melanjutkan, tiadanya jamban karena semua rumah hancur terkena bencana gempa juga membuat masyarakat tidak punya tempat untuk Buang Air Besar (BAB) dan ini juga menjadi masalah. 

Selain itu, dia menambahkan, pengelolaan sampah menjadi masalah karena masyarakat ketika tinggal di pengungsian merasa serba terbatas. Akibatnya pengungsi tidak menjaga kebersihan dan buang sampah sembarangan.

“Karena itu, mereka (masyarakat) harus punya akses,” katanya saat ditemui usai acara penghargaan sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) Berkelanjutan Eka Pratama, kepada 23 Kab/Kota serta 1 Provinsi yang telah berhasil mencapai 100 persen terbebas dari perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) atau Open Defecation Free (ODF). 

Ia mengklaim, Kemenkes ingin menjaga kondisi pascabencana agar masyarakat tidak mengalami hal yang lebih buruk. Dalam situasi darurat, Kemenkes menargetkan harus tersedia air bersih, jamban, hingga mandi cuci kakus (MCK). 

“Selain itu air limbah juga disalurkan dengan tepat supaya tidak tergenang dan jadi sumber penyakit,” ujarnya. 

Karena itu, kata dia melanjutkan, Kemenkes berupaya mengatasi masalah tersebut dengan beberapa langkah nyata. Pertama, Kemenkes bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) serta relawan untuk penyediaan jamban.

Hasilnya, ia mengklaim di Lombok Utara sudah hampir 100 persen bebas BAB sembarangan. Kedua, ia menyebut Kemenkes menyediakan kantong sampah di lokasi pengungsian, jadi mereka harus mengumpulkan kantong sampah untuk memudahkan pengungsi membuang sampah pada tempatnya. Kendati demikian, ia menyebut dibutuhkan peran pemerintah daerah untuk melaksanakannya.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menambahkan, langkah Kemenkes menggandeng Kementerian PU-PR membuat jamban seperti di Lombok meski kelihatan hal kecil tapi berdampak besar. 

“Kami tidak mau masyarakat sudah terkena bencana, nanti bisa kena kejadian luar biasa (KLB) penyakit pula,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Kesehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan Imran Agus Nurali menambahkan, akses sanitasi di daerah bencana seperti Palu dan Sigi kini sudah 60-70 persen. Ia menambahkan, Kemenkes berupaya menjaga supaya jangan sampai akses sanitasi di daerah-daerah bencana turun.

MENJAGA KESEHATAN LINGKUNGAN

Masyarakat perlu disadarkan akan pentingnya kesehatan lingkungan yang baik jika ingin menciptakan komunitas yang sehat dan bahagia. Apabila mereka mampu menjaga lingkungan dengan baik secara tanggung jawab, munculnya banyak penyakit, yang umumnya dikarenakan adanya lingkungan kotor, dapat dihindari. Saat melakukan proses inisiasi pengenalan kesehatan lingkungan, dibutukan kesadaran segenap elemen masyarakat sehingga tujuan dari terciptanya kesehatan secara menyeluruh dapat dirasakan oleh semua pihak yang nantinya manfaat dari kesehatan lingkungan juga dapat menguntungkan segenap masyarakat.

Komitmen kuat dari dalam diri masing-masing orang di satu lingkungan tersebut menjadi proses awal yang harus dibangun. Tanpa adanya kesepakatan dan komitmen bersama, mustahil kesehatan lingkungan dapat tercipta mengingat jika lingkungan satu tidak terjaga kebersihannya, maka hal ini akan mempengaruhi buruknya kebersihan daerah lainnya.

Terciptanya masyarakat sehat yang mandiri dan berkemampuan akan menjadi harapan tersendiri saat mereka berhasil mengaplikasikan kesehatan lingkungan dengan baik. Jika masyarakat sehat, maka hal ini akan menciptakan generasi yang mandiri terutama secara finansial karena jiwa dan badan yang sehat tentunya akan memberikan semangat tersendiri serta rasa fokus bagi mereka dalam bekerja. Mereka tidak akan terbebani untuk berobat ke dokter sehingga konsentrasi dalam bekerja akan semakin meningkat. Ketika mereka sudah mandiri secara finansial, maka mereka berkemampuan untuk mengaktulisasikan diri dalam kehidupan masing-masing.

Saat menggerakkan masyarakat agar sadar pentingnya kebersihan bagi kehidupan, mereka memerlukan contoh konkret yang bisa dilihat dari program pemerintah dalam mendukung kesehatan lingkungan juga menjadi bentuk dukungan pemerintah agar masyarakatnya tetap berfokus pada penciptaan lingkungan yang lebih baik. Pelaksanaan beberapa aktivitas dalam menggalang kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungannya tetap bersih dapat dilakukan dengan program pembersihan massal di daerah yang memungkinkan tempat berkumpulnya sumber penyakit seperti tempat pembuangan sampah akhir, sungai, gorong-gorong, hingga rumah masing-masing warga dapat mewujudkan terbangunnya komunitas pecinta kebersihan.

Dalam program tersebut, pemerintah perlu mendukung dalam memberikan peralatan atau menyediakan segala sesuatu yang terkait dalam mendukung upaya masyarakat terhadap kesehatan lingkungan tersebut sehingga komunikasi dapat terjalin dan sinergi antara masyarakat dengan pemerintah. Pihak terkait seperti dinas kesehatan juga memiliki kontribusi signifikan dalam memonitor serta memberikan pengarahan kepada masyarakat untuk menciptakan kesehatan lingkungan.

Pemerintah sebaiknya secara berkala melakukan sosialiasi kepada warga mengenai masalah kesehatan apa yang saat ini mungkin dihadapi dalam sebuah lingkungan, sehingga komunitas masyarakat dapat menyumbangkan solusinya sehingga apa yang menjadi tujuan bersama dapat terwujud. Masyarakat jelas sangat dibutuhkan kontribusinya dalam hal ini karena mereka yang sangat memahami kondisi dan lingkungan mereka. Pemberian pelatihan bagi upaya kebersihan juga dapat diadakan oleh dinas kesehatan sehingga masyarakat mampu memberikan setidaknya upaya pertama dalam menghambat penyebaran penyakit di sebuah lingkungan. Pastikan masyarakat juga mau secara aktif dan partisipatif mengkomunikasikan masalah apa yang terjadi dalam lingkungannya terkait dengan kesehatan sehingga koordinasi antara dinas kesehatan dengan masyarakat dalam menjaga kesehatan lingkungan tetap terjalin dengan baik.

Diet Kantong Plastik, Kurangi Sampah Plastik untuk Kesehatan Lingkungan

Penggunaan plastik telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sifatnya yang ringan dan kuat membuat plastik praktis untuk digunakan. Di samping itu, sampah plastik amat mengancam kesehatan dan keseimbangan lingkungan. Sampah plastik membutuhkan puluhan sampai ratusan tahun untuk bisa terurai secara alami.

Mengurangi Sampah Plastik

Indonesia sendiri, berdasarkan riset yang dilakukan Universitas Georgia pada tahun 2015, menempati peringkat kedua sebagai penghasil sampah plastik terbanyak di dunia, yakni sebanyak 5,4 juta ton per tahun. Sampah plastik yang menumpuk tidak hanya berpotensi menjadi sumber penyakit di daratan, bahkan telah merusak ekosistem laut.

Produksi sampah plastik memang sulit dihentikan, namun sangat mungkin untuk dikurangi terutama dengan mengubah kebiasaan kecil di rumah. Upaya apa saja yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi sampah plastik?

1. Manfaatkan kantong atau wadah dari plastik yang ada

Memanfaatkan kantong plastik untuk mengurangi sampah plastik

Cara pertama untuk mereduksi sampah plastik adalah dengan menerapkan metode reuse. Kantong plastik yang kamu dapatkan dari pasar atau toko swalayan sebaiknya tidak langsung dibuang sehingga kamu bisa menggunakannya lagi di kemudian hari.

Wadah plastik juga dapat dipakai sebagai kotak makanan, namun terlebih dahulu cermati kode food grade yang tertera di bawahnya. Pastikan wadah plastik tersebut aman digunakan dalam waktu yang lama.

2. Membatasi pemakaian kemasan plastik

Membatasi sampah plastik

Sisa kemasan adalah jenis sampah plastik yang paling banyak kita hasilkan sehari-hari. Sampah plastik jenis ini dapat dihindari dengan tidak banyak membeli barang-barang dalam kemasan sachet, seperti membeli sampo dalam kemasan dispenser sehingga bisa digunakan berkali-kali.

Biasakan diri untuk mengurangi konsumsi makanan yang kemasannya dapat menjadi sampah plastik. Kedengarannya mustahil memang, namun masih ada makanan yang dikemas dengan bahan-bahan organik seperti kertas dan daun pisang.

3. Membawa tas belanjaan sendiri

Membawa tas kanvas untuk mengurangi sampah plastik

Menolak penggunaan kantong plastik dikenal dengan istilah refuse dalam langkah pengurangan sampah plastik. Bawa selalu tas kanvas ke mana pun kamu pergi sehingga tidak perlu lagi membungkus belanjaan dengan kantong plastik. Pilihlah desain tas kanvas yang mudah dilipat sehingga mudah disimpan.

Banyak retail komersil menggunakan kantong plastik sekali pakai untuk mengemas belanjaan pembelinya. Alhasil, karena tidak bisa digunakan lagi ia pun menambah tumpukkan sampah plastik yang menggunung.

4. Kurangi memesan makanan, masaklah makanan sendiri

Memasak untuk mengurangi sampah plastik

Maraknya jasa pesan-antar makanan secara online, membuat kita memilih membeli makanan ketimbang memasak makanan di rumah karena dinilai lebih praktis dan tidak memakan waktu. Padahal kemasan makanan, termasuk perlatan makanan sekali pakai yang disertakan di dalamnya, dapat menambah produksi sampah plastik di rumah.

Memasak makanan sendiri menghindari produksi sampah plastik. Kamu juga bisa lebih berhemat sekaligus meningkatkan skill memasakmu.

5. Gunakan peralatan makan dan botol minuman sendiri

Set peralatan makan untuk mengurangi sampah plastik

shutterstock.com

Selain tas kanvas, bawa juga selalu kotak makanan dan botol minuman yang dapat digunakan berkali-kali saat kamu bepergian keluar rumah. Sekarang ini berbagai gerai makanan dan minuman memperbolehkan kita menggunakan wadah makanan dan minuman milik sendiri guna mengurangi sampah plastik. Kamu bisa membeli botol minum dari berbagai merek, seperti merek Weston di Dekoruma.

Upaya pengurangan sampah plastik yang satu ini juga bisa membuat kamu terhindar dari bakteri dan virus berbahaya yang terdapat pada wadah atau kemasan makanan yang dijual di pinggir jalan.

6. Kurangi penggunaan sedotan plastik

Sedotan untuk mengurangi sampah plastik

Dulu dampak sampah plastik yang berasal dari sedotan plastik tidak begitu dihiraukan, sampai beberapa waktu lalu sampah plastik ini terbukti melukai dan membahayakan sejumlah biota laut.

Dalam hasil penelitian pun, sedotan plastik termasuk penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Beberapa jenis sedotan lain seperti, sedotan bambu, kertas, stainless, dan akrilik dapat dijadikan sebagai pengganti sedotan plastik.

7. Simpan makanan dalam toples kaca

Toples untuk mengurangi sampah plastik

Tidak hanya melalui pengurangan kantong plastik, sampah plastik pun bisa ditekan produksinya dengan pemakaian toples berbahan  kaca sebagai alternatif saat menyimpan makanan.

Material ini lebih aman dan sehat dibandingkan wadah plastik yang berpotensi mengandung bahan kimia berbahaya. Makanan pun terjamin higienis dan tidak mudah alot saat ditempatkan di toples kaca.

8. Olah sampah plasti jadi barang baru

Pot tanaman dari sampah plastik

Sampah plastik dapat dijadikan modal untuk berkreasi. Kerahkan kreativitasmu untuk mengolah kemasan produk berbahan plastik menjadi barang yang lebih fungsional, seperti tas plastik, pot tanaman, dan kerajinan lainnya. Langkah pengolahan sampah plastik ini dapat menyempurnakan gaya hidup 4R yang ramah lingkungan.

Sanitasi Lingkungan Berperan Penting dalam Mencegah Stunting

Berdasarkan data riskesdas 2013 menunjukkan terdapat 8,9 juta anak balita Indonesia yang mengalami stunting (Satriawan, 2018), (pusat data dan informasi, 2018). 

Stunting terjadi tidak begitu saja melainkan melalui proses yang cukup lama atau kronis. Stunting berarti kondisi anak yang memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya diakibatkan asupan gizi yang kurang. 

Jika ini berlangsung terus maka kualitas generasi mendatang akan menurun. Apabila tidak segera diatasi menurut Bapenas kerugian yang dapat ditimbulkan karena stunting mencapai 300 triliun (Afandi, 2018).

Ada  tujuh poin yang perlu diperhatikan dalam mengatasi permasalah stunting pertama, pola makan dengan gizi seimbang perlu dibiasakan agar kecukupan nutrisi dan kesehatan balita terjamin. 

Kedua, pola asuh dalam pemberian dan perawatan dari mulai kehamilan hingga balita. Bahkan idealnya diberikan pendidikan sejak remaja putri.

 Pemeriksaan kehamilan yang rutin, konsumsi makanan yang tepat saat hamil, merawat bayi, cara memberi makan dan jenisnya, pemberian asi ekslusif termasuk menjaga kesehatan ibunya. Ketiga, sanitasi lingkungan, akses air bersih yang sulit, kebiasaan mencuci tangan, buang air besar sembarangan dapat menimbulkan masalah infeksi pada ibu dan bayinya. 

Keempat, perilaku hidup bersih dan sehat. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, prilaku membuang sampah dan pengelolaanya, penggunaan alas kaki untuk mencegah kecacingan.

Kelima, mengurangi angka kemiskinan. Kemiskinan identik dengan daya beli yang rendah, lingkungan yang kumuh serta akses terhadap pendidikan dan kesehatan menjadi rendah. 

Keenam, regulasi pendukung berupa peraturan dan sanksi yang tegas untuk mendukung kebijakan yang dibuat. Dalam setiap kebijakan perlu dibuat daya dorong dengan peraturan pendukung. Ketujuh, meningkatkan akses pendidikan. 

Pendidikan yang baik meningkatkan kualitas dan sosial ekonomi masyarakat. Melalui peningkatan kualitas pendidikan mampu menunjang faktor lainnya.

Sanitasi lingkungan ternyata berperan besar dalam mencegah kejadian stunting ini. WHO pada 2018 mengumumkan bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua sanitasi terburuk di dunia setelah India. 

MASALAH-MASALAH KESEHATAN LINGKUNGAN DI INDONESIA

Masalah Kesehatan lingkungan merupakan masalah kompleks yang untuk mengatasinya dibutuhkan integrasi dari berbagai sector terkait. Di Indonesia permasalah dalam kesehatan lingkungan antara lain:

1. Air Bersih
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.

Syarat-syarat Kualitas Air Bersih diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna
  • Syarat Kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, Kesadahan (maks 500 mg/l)
  • Syarat Mikrobiologis : Koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air)

2. Pembuangan Kotoran/Tinja
Metode pembuangan tinja yang baik yaitu dengan jamban dengan syarat sebagai berikut:

  • Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi
  • Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata air atau sumur
  • Tidak boleh terkontaminasi air permukaan
  • Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain
  • Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar ; atau, bila memang benar-benar diperlukan, harus dibatasi seminimal mungkin jamban harus babas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang
  • Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.

3. Kesehatan Pemukiman
Secara umum rumah dapat dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:

  • Memenuhi kebutuhan fisiologis, yaitu : pencahayaan, penghawaan dan ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu
  • Memenuhi kebutuhan psikologis, yaitu : privacy yang cukup, komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah
  • Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antarpenghuni rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan minuman dari pencemaran, disamping pencahayaan dan penghawaan yang cukup
  • Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain persyaratan garis sempadan jalan, konstruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar, dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir.

Baca juga: Filter air yang bisa menjernihkan air dalam waktu singkat

4. Pembuangan Sampah
Teknik pengelolaan sampah yang baik dan benar harus memperhatikan faktor-faktor /unsur, berikut:

  • Penimbulan sampah. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sampah adalah jumlah penduduk dan kepadatanya, tingkat aktivitas, pola kehidupan/tk sosial ekonomi, letak geografis, iklim, musim, dan kemajuan teknologi
  • Penyimpanan sampah
  • Pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan kembali
  • Pengangkutan
  • Pembuangan

Dengan mengetahui unsur-unsur pengelolaan sampah, kita dapat mengetahui hubungan dan urgensinya masing-masing unsur tersebut agar kita dapat memecahkan masalah-masalah ini secara efisien.

5. Serangga dan Binatang Pengganggu

Serangga sebagai reservoir (habitat dan suvival) bibit penyakit yang kemudian disebut sebagai vektor misalnya : pinjal tikus untuk penyakit pes/sampar, Nyamuk Anopheles sp untuk penyakit Malaria, Nyamuk Aedes sp untuk Demam Berdarah Dengue (DBD), Nyamuk Culex sp untuk Penyakit Kaki Gajah/Filariasis.

Penanggulangan/pencegahan dari penyakit tersebut diantaranya dengan merancang rumah/tempat pengelolaan makanan dengan rat proff (rapat tikus), Kelambu yang dicelupkan dengan pestisida untuk mencegah gigitan Nyamuk Anopheles sp, Gerakan 3 M (menguras mengubur dan menutup) tempat penampungan air untuk mencegah penyakit DBD, Penggunaan kasa pada lubang angin di rumah atau dengan pestisida untuk mencegah penyakit kaki gajah dan usaha-usaha sanitasi.

Binatang pengganggu yang dapat menularkan penyakit misalnya anjing dapat menularkan penyakit rabies/anjing gila. Kecoa dan lalat dapat menjadi perantara perpindahan bibit penyakit ke makanan sehingga menimbulakan diare. Tikus dapat menyebabkan Leptospirosis dari kencing yang dikeluarkannya yang telah terinfeksi bakteri penyebab.

6. Makanan dan Minuman

Sasaran higene sanitasi makanan dan minuman adalah restoran, rumah makan, jasa boga dan makanan jajanan (diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran, dan hotel).

Persyaratan hygiene sanitasi makanan dan minuman tempat pengelolaan makanan meliputi 8 cara:

  • Persyaratan lokasi dan bangunan
  • Persyaratan fasilitas sanitasi
  • Persyaratan dapur, ruang makan dan gudang makanan
  • Persyaratan bahan makanan dan makanan jadi
  • Persyaratan pengolahan makanan
  • Persyaratan penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi
  • Persyaratan peralatan yang digunakan
  • Pencemaran Lingkungan

Pencemaran lingkungan diantaranya pencemaran air, pencemaran tanah, pencemaran udara. Pencemaran udara dapat dibagi lagi menjadi indoor air pollution dan out door air pollution. Indoor air pollution merupakan problem perumahan/pemukiman serta gedung umum, bis kereta api, dll. Masalah ini lebih berpotensi menjadi masalah kesehatan yang sesungguhnya, mengingat manusia cenderung berada di dalam ruangan ketimbang berada di jalanan.

Diduga akibat pembakaran kayu bakar, bahan bakar rumah tangga lainnya merupakan salah satu faktor resiko timbulnya infeksi saluran pernafasan bagi anak balita. Mengenai masalah out door pollution atau pencemaran udara di luar rumah, berbagai analisis data menunjukkan bahwa ada kecenderungan peningkatan.

Beberapa penelitian menunjukkan adanya perbedaan resiko dampak pencemaran pada beberapa kelompok resiko tinggi penduduk kota dibanding pedesaan. Besar resiko relatif tersebut adalah 12,5 kali lebih besar. Keadaan ini, bagi jenis pencemar yang akumulatif, tentu akan lebih buruk di masa mendatang.

Pembakaran hutan untuk dibuat lahan pertanian atau sekedar diambil kayunya ternyata membawa dampak serius, misalnya infeksi saluran pernafasan akut, iritasi pada mata, terganggunya jadual penerbangan, terganggunya ekologi hutan.

Untuk itu dengan adanya HYDRO mesin air RO dapat mengatasi masalah-masalah lingkungan di Indonesia terutama masalah air seperti keruh, berbau, kuning, mengandung Mangan (Mn), mengandung kadar besi tinggi dll. HYDRO water filter mampu mengatasi permasalahan air Anda dengan menggunakan media yang berkualitas dengan ukuran media kurang dari 1mm dan Grade number pore size lebih dari 1100 point.