Sanitasi Layak, Jaminan Masa Depan Sehat


Masalah sanitasi di Indonesia
 
tak bisa dipandang sebelah mata. Sanitasi yang buruk dan air minum yang tidak higenis bisa memengaruhi kesehatan, khususnya pada anak-anak. Mereka menjadi rentan terkena penyakit seperti diare, polio, pneumonia, hingga penyakit kulit. Gangguan kesehatan ini jugalah yang paling banyak merengut nyawa anak-anak.

Tak perlu jauh-jauh melihat ke daerah terpencil, di Kota Jakarta pun masih banyak sanitasi yang kurang layak. Berdasarkan catatan Joint Monitoring WHO/UNICEF (2010), lebih dari 63 juta orang buang air besar tidak pada tempatnya dan 46 rumah tangga belum memiliki fasilitas jamban yang memadai.

Dalam acara peluncuran Unilever Project Sunlight, musisi Agustinus Gusti Nugroho atau yang akrab disapa Nugie menceritakan pengalamannya menemukan sanitasi yang kurang layak di sekitarnya.

“Maaf, di beberapa gedung-gedung pemerintahan saja kita bisa lihat sanitasi yang kurang baik. Toilet kurang bersih,” katanya, di Jakarta, Rabu (12/11).

Demikian pula dikatakan artis Mona Ratuliu. Ia terpaksa harus menahan buang air jika mendapati kamar mandi atau toilet yang kurang bersih. Masalah sanitasi ini pun menjadi perhatian khusus seorang remaja, Dira Noveriani (17). Di sela-sela aktivitasnya sebagai relawan pengajar, Dira mengajarkan pola hidup sehat kepada sekelompok anak-anak jalanan di kawasan Jakarta TImur.

“Dari April 2014, saya sukarela mengajar anak-anak jalanan. Saya tak hanya mengajar Bahasa Inggris, tetapi juga bagaimana gaya hidup sehat, seperti cuci tangan pakai sabun sebelum makan,” terang Dira dalam acara yang sama.

Dira menceritakan, untuk mengedukasi anak-anak mengenai pola hidup sehat tak semulus yang dibayangkan. Menurut Dira, orangtua di kalangan menengah ke bawah belum bisa mendukung sepenuhnya masalah kebersihan di lingkungan tempat tinggal.

Terkait masalah sanitasi ini, Dira pun dipilih dalam Project Sunlight  sebagai pemimpin masa depan dari Indonesia untuk menyampaikan gagasannya. Menurut Dira, anak-anak merupakan genarasi penerus bangsa. Untuk mewujudkan cita-cita, anak-anak pun harus tumbuh sehat.

“Melihat kepedulian Dira yang begitu besar, Unilever melalui Project Sunlight akan mewujudkan mimpi Dira untuk membantu memperbaiki sanitasi di sekolah-sekolah yang ada di lima kota besar di Indonesia,” ujar Head of Corporate Communication PT Unilever Indonesia, Maria Dewantini Dwianto.

Dipaparkan dalam acara tersebut bahwa di Indonesia lebih dari 40 juta orang masih minim mendapatkan akses untuk sumber air bersih dan lebih dari 110 juta penduduk tidak memiliki akses untuk sanitasi yang baik. Dengan hanya 2 persen akses sistem pembuangan air dan kotoran di area perkotaan, ini adalah salah satu yang terendah di dunia dan di antara negara berpenghasilan menengah.

Sanitasi dan air bersih pun masuk dalam tujuan Millenium Development Goals (MDG\’s). Data terakhir, masalah sanitasi di Indonesia berada pada posisi 55,6 persen dari target MDG\’s tahun 2015 sebesar 62,41 persen. Sedangkan untuk target MDGs masalah air minum, Indonesia baru mencapai 42,76 persen dari target MDGs 68,8 persen.

Sanitasi Masih Jadi Masalah Daerah Terpencil

 Pemerintah menilai sanitasi masih menjadi masalah utama untuk kawasan daerah terpencil. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono mengatakan sanitasi tidak hanya faktor kurangnya jumlah jamban di setiap rumah, namun juga kurangnya akses air bersih. “Ada 32 juta rumah tangga di seluruh Indonesia yang belum memiliki jamban,” ujar Anung Selasa, 16 Mei 2017.

Untuk itu, pada kegiatan Tentara Nasional Indonesia Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-99 ini, TNI Angkatan Darat menggandeng Kementerian Kesehatan dalam menangani sanitasi. Pada pelaksanaan TMMD pada 4 Juli hingga 2 Agustus nanti, kedua lembaga menargetkan pembangunan satu juta jamban. “Targetnya, tidak ada lagi masyarakat Indonesia yang buang air besar sembarangan sampai tahun 2019,” kata Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Mulyono.

Selain pembangunan sanitasi, TMMD juga akan melakukan kegiatan fisik seperti pemeriksaan kesehatan, pengobatan massal, kesehatan lingkungan, menanam tanaman obat keluarga, dan rehabilitasi sarana prasarana kesehatan di daerah tujuan. Kedua lembaga juga akan bekerja sama dalam sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Gerakan itu mengedepankan tindakan promotif dan preventif terhadap suatu masalah kesehatan atau penyakit.

TTMD akan melibatkan 58 Satuan Tingkat Kompi (SSK).Satu SSK terdiri dari 150 orang. Ada 8.700 orang yang akan bertugas dalam kegiatan ini. Mereka tidak hanya berasal dari Pusat Kesehatan TNI Angkatan Darat tapi juga dari petugas Puskesmas setempat, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, serta Dinas Kesehatan Provinsi.

Kementerian Kesehatan dan TNI AD serta pejabat daerah melaksanakan Rapat Koordinasi Teknis untuk memetakan masalah kesehatan di masing-masing daerah. Lalu mereka akan menyusun kebutuhan sumber daya manusia serta anggarannya.

Babinkamtibmas Desa Pupuan Polres Tabanan bersama Masyarakat mengikuti Giat Sosialisasi Sanitasi Lingkungan untuk meningkatkan pola Hidup bersih dan sehat lingkungan.

Polda Bali-polres Tabanan- Polsek Pupuan.

Pada hr selasa 13 maret 2018 jam 20.00 wita Bhabin Desa Pupuan Aiptu Putu Sugriwa mengikuti sosialisasi sanitasi lingkungan berbasis masyarakat dari PU kabupaten tabanan bertempat di balai serbaguna Desa pupuan kecamatan pupuan kabupaten Tabanan. kegiatan tersebut dihadiri oleh Team Dinas PU An. I Made Pala Gina, I Gst Ketut Muliarta,I gusti Anom dan Wyn Muliada perbekel Desa pupuan, ketua LPM Desa Pupuan, Kelian Dinas dan adat sedesa Pupuan.acara tersebut merupakan program pemerintah th 2015 sampai 2019.

Dari sosialisasi program yang akan dilaksanakan dari Dinas PU tentang pembuangan limbah tangga melalui pipa tidak lagi melalui got supaya tidak timbul penyumbatan dalam got. pembiayaan sanitasi tersebut diambil dari anggaran Negara melalui keuangan Negara.

Acara tersebut diikuti oleh warga masyarakat banjar Kubu dan kayupuring karena kedua banjar tersebut bisa menyiapkan tempat untuk penampungan limbah rumah tangga.pendanaan pembuatan intalasi pembuatan aliran limbah di biaya dengan anggaran Rp 500.000.000(lima ratus juta rupiah)/ sanitasi.

Bola Panas Kasus Dugaan Suap Proyek Sanitasi Di Tangan Inspektorat

Kasus dugaan suap dan proyek MCK di Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang masih bergulir. Saat ini yang paling ditunggu, adalah hasil rekomendasi Inspektorat.

Kepala DPMD Jombang Solahudin Hadi Sucipto mengaku turun ke desa setelah polemik bagi-bagi amplop mulai muncul di media. Selama turun lapangan itu ia telah mendapat penjelasan dari pihak pemerintah desa, terkait asal usul uang yang dibagikan. “Ya, kalau menurut kades lama itu bagian dari honor TPK,” terangnya kemarin.

Disinggung kualitas bangunan MCK yang sempat dikeluhkan BPD sebelumnya, dia mengaku tidak tahu. Karena sejak awal, pihaknya tidak mendapat surat pengaduan atas keluhan yang disampaikan pihak BPD setempat. “Kan sejak awal suratnya hanya ke inspektorat, tidak ada tembusan ke kami (DPMD, Red). Karena sudah mulai ditangani Inspektorat, kita prinsipnya menunggu saja hasil dan rekomendasinya bagaimana,” tambah dia.

Dikonfirmasi terpisah, aparat penegak hukum di Jombang, baik kepolisian maupun kejaksaan juga sama-sama masih memantau. Kasatreskrim Polres Jombang, AKP Ambuka Yudha Hardi Putra menyebut masih akan mencari informasi lebih detail perihal polemik di Desa Jatiwates. “Saya belum tahu pasti bagaimana itu, kami akan gali informasi dulu ya,” ucap AKP Ambuka Yudha Hardi Putra.

Pihaknya juga akan menunggu hasil audit dan pemeriksaan yang masih dilakukan Inspektorat Jombang. Terlebih pada uraian apakah ada kerugian negara yang ditimbulkan atau tidak. “Polri dan Inspektorat saling koordinasi. Kalau ada laporan total lost yang merugikan negara atau terjadi korupsi ya kita proses,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Kasi Intelejen Kejari Jombang Harry Rachmad yang juga masih menunggu. “Kita sebenarnya sudah meninjau juga, cuma karena sudah ditangani Inspektorat, jadi kita tunggu saja,” ucap dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, BPD Jatiwates melaporkan dugaan penyuapan kepada Inspektorat Jombang, Januari lalu. Ini setelah ada sembilan amplop yang dibagikan kepada BPD usai mereka menyoroti proyek pembangunan MCK dari dana DD dan PID 2019 yang nilainya lebih dari Rp 300 juta. Sorotan itu dilontarkan karena tak sesuai RAB.

260 Keluarga di Desa Brajagemilang Lamtim Masih Gunakan Jamban Cemplung

Sebanyak 260 keluarga di Desa Brajagemilang, Kecamatan Brajaselebah, belum memiliki sanitasi lingkungan yang sehat dan masih menggunakan jamban (WC) cemplung. Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Desa Brajagemilang, Agus, Jumat (31/05/2019).

“260 keluarga dari 925 kepala keluarga (KK) yang masih menggunakan WC cemplung. Artinya warga Brajagemilang masih banyak yang hidup dalam ekonomi yang memprihatinkan, dan sanitasi lingkungan yang belum sehat,” ungkap Agus.

Dikatakannya, untuk mengubah lingkungan sehat dari polusi kotoran manusia, desa Brajagemilang akan memberikan bantuan kepada masyarakat yang belum memiliki WC permanen, bantuan dimaksud yaitu desa akan membangunkan dengan menggunakan anggaran Dana Desa (DD).

“Kalau tidak kita bantu kemungkinan susah menghilangkan WC cemplung,” kata Agus.

Dari 260 keluarga yang masih memanfaatkan sanitasi tidak ramah lingkungan tersebut karena faktor ekonomi, sehingga yang akan dibangunkan melalui dana desa sebanyak 100 unit dulu sedangkan yang 160 akan dibangunkan tahun depan.