Kualitas Tanah di Pulau Jawa Disebut Menurun

Guru besar Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Supriyadi menyatakan kualitas tanah yang ada di Pulau Jawa menurun. Itu seiring dengan eksploitasi yang berlebihan.

“Jawa merupakan industri jasa sehingga mengalami tekanan hebat dan kecepatan alih fungsi tidak bisa dibendung lagi,” katanya pada jumpa pers terkait pengukuhan guru besar di Solo, Senin (2/4).

Ia mengatakan saat ini di seluruh Indonesia setiap tahunnya ada sekitar 100.000 hektare tanah yang mengalami alih fungsi lahan dengan sebagian besar terjadi di Jawa.

“Oleh karena itu, kondisi tanah di Jawa sudah kurang ideal untuk sistem pertanian karena bahan organik yang ada di dalam tanah tersebut sudah kurang dari dua persen. Untuk mengembalikan itu butuh energi tinggi,” katanya.

Melihat kondisi tersebut, dikatakannya, tanah pertanian di Jawa sudah tidak bisa lagi dijadikan sebagai penopang kebutuhan pangan untuk masyarakat se-Indonesia. Menurut dia, harapan yang paling besar adalah di Papua.

“Di sisi lain, jika ingin memperbaiki kualitas tanah di Jawa maka alih fungsi lahan menjadi bangunan ini harus diganti,” katanya.

Terkait hal itu, ia memberikan sejumlah rekomendasi, di antaranya penerapan bioindikator yang merupakan salah satu alternatif yang mudah, murah, dan relatif cepat untuk menilai keamanan dan kualitas tanah.

Ia mengatakan biota tanah memiliki peran terhadap kesuburan tanah, pertumbuhan dan produksi tanaman, serta sifat-sifatnya yang peka terhadap perubahan lingkungan, misalnya kadar bahan organik tanah.

Rekomendasi selanjutnya, dikatakannya, interaksi antarbiota tanah dan peran ekologisnya harus dipertimbangkan karena kisaran ukuran biota tanah yang sangat lebar mulai dari mikroba hingga cacing tanah.

“Selanjutnya, keanekaragaman biota tanah dapat ditingkatkan dengan praktik ecofarming berbasis konservasi dengan pengolahan tanah minimum, pengurangan dosis pupuk anorganik, pergiliran tanaman, pemupukan pupuk hayati, penambahan bahan organik terbukti dapat meningkatkan atau memulihkan keanekaragaman biota tanah,” katanya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *