Indonesia Masih Jadi Negara Terendah Urusan Sanitasi dan Air Minum Layak

Menurut survei Badan Pusat Satistik (BPS) capaian akses air minum layak baru menyentuh angka 59.07 persen pada tahun 2017. Adapun untuk sanitasi mengalami peningkatan dengan capaian menyentuh angka 76,91 persen.

Sementara, menurut laporan World Health Organitation (WHO) Joint Monitoring Program (JMP) tahun 2017, Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan posisi lima terendah untuk cakupan air minum dan sanitasi.

Berkaitan dengan dukungan terhadap pencapaian SDGs, pada Desember ini, United States Agency for International Development (USAID) berpartisipasi pada SDGs Annual Conference 2018 dalam kegiatan diskusi paralel 3A “Menuju Akses Air Minum dan Sanitasi Perkotaan yang Aman dan Berkelanjutan” yan dihelat di Jakarta.

USAID lewat programnya, IUWASH PLUS (Indonesia Urban Water, Sanitation and Hygiene Penyehatan Lingkungan untuk Semua) melakukan studi formatif yang melibatkan 3.458 rumah tangga di 15 kabupaten/kota di Indonesia.

Dari kepemilikian toilet pada rumah tangga miskin menemukan, dari 77 persen rumah tangga yang memiliki toilet, sebanyak 13 persen melakukan pengurasan tangki septik. Sementara 12 persen masih membuang limbah domestik ke ruang terbuka seperti parit, sungai dan kolam.

Survei juga menunjukkan 11.5 persen menggunakan layanan sedot tinja swasta dan hanya 1.5 persen yang disedot oleh operator pemerintah. Hasil Studi Formatif memperkuat perlu dan pentingnya upaya pengembangan strategi pemasaran sanitasi untuk mengejar pencapaian target SDGs.

Ika Fransisca, Behavior Change and Marketing Advisor, USAID IUWASH PLUS menyampaikan, selain penyediaan fasilitas, perubahan perilaku masyarakat untuk hidup sehat merupakan elemen penting yang turut mempengaruhi peningkatan akses air minum dan sanitasi.

Menurut Ika, fakta yang ditemukan tim riset formatif USAID IUWASH PLUS diharapkan bisa membantu semua pihak, terutama pemerintah daerah dalam mempercepat upaya pencapaian akses air minum dan sanitasi sesuai target yang telah ditetapkan.

“Sehingga nantinya bisa menjadi landasan untuk menentukan strategi pemasaran dan komunikasi yang akan diterapkan untuk mendukung perubahan perilaku masyarakat dan juga dalam mempercepat pencapai target air minum dan sanitasi,” kata Ika kepada Indonesiainside.id, Senin (17/12).

Peningkatan akses air minum dan sanitasi merupakan salah satu sasaran dari ujuan Pembangunan Berkelanutan (TPB) yang juga tertuang dalam Rencana Pembangunan Janka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, untuk mewujudkan akses air minum dan sanitasi menyeluruh di tahun 2019.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *