dr. Suarjaya, MPPM : Kita Semua Harus Secara Bersama-sama Melakukan Upaya Tanggap Covid 19!

Dalam rangka meningkatkan kewaspadaan terkait penyebaran Virus Corona, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati bersama Sekda Prov. Bali Dewa Made Indra secara simbolik melaksanakan kegiatan Gerakan Hygiene dan Sanitasi Lingkungan berupa penyemprotan disinfektan di beberapa wilayah di Bali. Kegiatan ini dilaksanakan Sabtu (7/3) dan melibatkan OPD lingkup Prov.Bali dan isntansi terkait. Ikut juga para pejabat di lingkungan Dinkes Prov.Bali dan UPTD.

“Kegiatan ini dilaksanakan Sesuai dengan Surat Edaran Sekretaris Daerah Provinsi Bali No.2717 Tahun 2020 tentang Peningkatan kewaspadaan Penyebaran Penyakit akibat Virus Covid 19 melalui Gerakan Hygiene dan Sanitasi Lingkungan. Kami mengajak kita semua untuk secara bersama-sama melakukan langkah nyata seperti peningkatan hygiene dan sanitasi lingkungan, diantara dengan upaya desinfeksi dan rajin cuci tangan pakai sabun”, ujar dr. Ketut Suarjaya, MPPM.

Penyemprotan dilaksanakan mulai pkl 07.30 pagi di lokasi Ruang Tunggu Penyeberangan Sanur – Nusa Penida/Lembongan di Sanur. Kemudian dilanjutkan ke Kawasan Bali Torism Development Corporation (BTDC) Nusa Dua tepatnya di area Bali Collection.

Dalam pelaksanaan prnyemprotan tersebut, banyak wisatawan dan pemilik usaha membantu proses pelaksanaan kegiatan tersebut. Beberapa petugas yang bertugas melakukan penyemprotan pun disebar ke berbagai tempat. Semua pelaksanaan kegiatan berjalan sesuai dengan rencana semula. Tim masing-masing bidang saling bahu-membahu menyelesaikan pekerjaan tersebut. (Humas Dinas Kesehatan Provinsi Bali)

  • Hygiene dan SanitasiWakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati
  • Wagub Bali MembukaWakil Gubernur Bali Didampingi Kadiskes Bali Membuka Acara Penyemprotan Disinfektan di BTDC Nusa Dua Dalam Rangka Pencegahan Penularan Covid 19
  • Penyemprotan DisinfektanWagub Bali Bersama Seluruh Pejabat di Lingkungan Pemprov Bali Melakukan Penyemprotan Langsung di Tempat Tempat Yang Beresiko Terjadi Penularan Covid 19
  • Hygiene dan SanitasiWakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati

Sanitasi Kota, Tantangan Kesehatan Lingkungan

Faktanya, kondisi sanitasi Indonesia memang masih buruk. Layanan air limbah domestik baru mencakup 51,9% penduduk (2010). Kita cuma lebih baik dari Laos dan Timor Leste di Asia Tenggara. Masih 70 juta penduduk buang air besar sembarangan. Artinya setiap hari ada 14.000 ton tinja (setara berat 4.500 gajah) dan 176.000 m3 air seni (setara 70 kolam renang ukuran olimpiade) yang mencemari lingkungan. Bakteri e-coli dijumpai di 75% air sumur dangkal perkotaan. Tidak heran jika kasus diare saat ini masih mencapai 411 per 1.000 penduduk.

Fakta juga mengatakan, selama 1970-1999, total investasi pemerintah pusat dan daerah untuk sanitasi hanya 200 rupiah per kapita per tahun. Angka ini memang meningkat selama 2000 – 2004 menjadi 2000 rupiah. Selama 5 tahun terakhir ini investasi sanitasi per kapita ini terus ditingkatkan menjadi 5000 rupiah per tahun. Sayangnya, jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan ideal sekitar 47.000 rupiah per kapita per tahun (studi Bappenas, 2008).

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah dalam hal ini Pokja AMPL Nasional yang merupakan bentuk sinergi lintas sektoral dari 8 kementerian, meluncurkan program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP). Dalam kesempatan peluncuran program yang dihadiri oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Boediono, memberikan arahan bahwa “pemerintah bertekad untuk mempercepat pelaksanaan upaya meningkatkan akses sanitasi, sehingga masyarakat bisa mengakses sanitasi dasar yang layak”. Berbagai upaya penguatan sinergi kemudian terus diupayakan, termasuk koordinasi bersama kabupaten/kota serta provinsi.

Sebagai salah satu upaya penguatan sinergi tersebut, AKKOPSI (Aliansi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi) dengan didukung oleh Pokja AMPL Nasional, kembali menyelenggarakan City Sanitation Summit yang kesepuluh kalinya, atau disingkat ‘CSS X’. Tuan Rumah Banda Aceh telah menetapkan sub-tema CSS X: “Tuntaskan Strategi, Siapkan Investasi di Sektor Sanitasi Secara Holistik”.Sub-tema tersebut diharapkan dapat memperkuat tema besar CSS yang dilakukan sepanjang 2011, yaitu: “Bertekad Mewujudkan Pencapaian Program Pembangunan Sanitasi Permukiman”.

Kegiatan yang dihadiri oleh Walikota Banda Aceh, Ir. Mawardy Nurdin, M.Eng.Sc., dan Sekretaris AKKOPSI, Capt. Josrizal Zain, SE. MM., merupakan pertemuan puncak sebagai wujud deklarasi penguatan tekad bagi pengarusutamaan pembangunan sanitasi di daerah. Ini menunjukkan bukti semakin kuatnya kesadaran kabupaten/kota di Indonesia tentang pentingnya pembangunan sanitasi permukiman. Selain itu, dalam sambutan pembukaannya, Direktur Perkotaan, Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Kementerian Dalam Negeri, Dadang Soemantri, menambahkan bahwa hal ini juga semakin disadari adanya pendekatan tentang pembangunan sanitasi pro rakyat, yang pro pengentasan kemiskinan.

Dadang juga menegaskan bahwa rangkaian kegiatan ini sudah pasti harus diikuti dengan langkah konkret dalam bentuk penetapan kebijakan, penyusunan dokumen perencanaan, penganggaran, pelaksanaan program serta kegiatan pembangunan secara nyata di lapangan. Dengan demikian, diharapkan pembangunan menjadi lebih terarah dan berkelanjutan.

alat sanitasi lingkungan yang berkualitas hanya tedapat di https://www.indotekhnoplus.com/

Dukung Masa Depan Sehat dengan Sanitasi yang Layak

Masalah sanitasi di Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata. Sanitasi yang buruk dan air minum yang tidak higenis bisa mempengaruhi kesehatan, khususnya pada anak-anak. Mereka menjadi rentan terkena penyakit seperti diare, polio, pneumonia, hingga penyakit kulit. Gangguan kesehatan ini juga lah yang paling banyak merengut nyawa anak-anak. Tak perlu jauh-jauh melihat ke daerah terpencil, di kota Jakarta pun masih banyak sanitasi yang kurang layak.

Berdasarkan catatan Joint Monitoring WHO/UNICEF (2010), lebih dari 63 juta orang buang air besar tidak pada tempatnya dan 46 rumah tangga belum memiliki fasilitas jamban yang memadai. Dalam acara peluncuran Unilever Project Sunlight, musisi Agustinus Gusti Nugroho atau yang akrab disapa Nugie menceritakan pengalamannya menemukan sanitasi yang kurang layak di sekitarnya. “Maaf, di beberapa gedung-gedung pemerintahan saja kita bisa lihat sanitasi yang kurang baik. Toilet kurang bersih,” kata Nugie, di Jakarta, Rabu (12/11/2014). Demikian pula dikatakan artis Mona Ratuliu. Ia terpaksa harus menahan buang air jika mendapati kamar mandi atau toilet yang kurang bersih.

Masalah sanitasi ini pun menjadi perhatian khusus seorang remaja, Dira Noveriani (17). Di sela-sela aktivitasnya sebagai relawan pengajar, Dira mengajarkan pola hidup sehat kepada sekelompok anak-anak jalanan di kawasan Jakarta TImur. “Dari April 2014, saya sukarela mengajar anak-anak jalanan. Saya tak hanya mengajar Bahasa Inggris, tetapi juga bagaimana gaya hidup sehat, seperti cuci tangan pakai sabun sebelum makan,” terang Dira dalam acara yang sama. Dira menceritakan, untuk mengedukasi anak-anak mengenai pola hidup sehat tak semulus yang dibayangkan.

Menurut Dira, orangtua di kalangan menengah ke bawah belum bisa mendukung sepenuhnya masalah kebersihan di lingkungan tempat tinggal. Terkait masalah sanitasi ini, Dira pun dipilih dalam Project Sunlight  sebagai pemimpin masa depan dari Indonesia untuk menyampaikan gagasannya.  Menurut Dira, anak-anak merupakan genarasi penerus bangsa. Untuk mewujudkan cita-cita, anak-anak pun harus tumbuh sehat. Tema Project Sunlight sendiri adalah Dukung Masa Depan Sehat.

“Melihat kepedulian Dira yang begitu besar, Unilever melalui Project Sunlight akan mewujudkan mimpi Dira untuk membantu memperbaiki sanitasi di sekolah-sekolah yang ada di lima kota besar di Indonesia,” ujar Head of Corporate Communication PT Unilever Indonesia, Maria Dewantini Dwianto. Dipaparkan dalam acara tersebut bahwa di Indonesia lebih dari 40 juta orang masih minim mendapatkan akses untuk sumber air bersih dan lebih dari 110 juta penduduk tidak memiliki akses untuk sanitasi yang baik. Dengan hanya 2 persen akses sistem pembuangan air dan kotoran di area perkotaan, ini adalah salah satu yang terendah di dunia dan di antara negara berpenghasilan menengah.

Sanitasi dan air bersih pun masuk dalam tujuan Millenium Development Goals (MDG’s). Data terakhir, masalah sanitasi di Indonesia berada pada posisi 55,6 persen dari target MDG’s tahun 2015 sebesar 62,41 persen. Sedangkan untuk target MDGs masalah air minum, Indonesia baru mencapai 42,76 persen dari target MDGs 68,8 persen.