Atasi Masalah Sanitasi, KKM UNDAR Bangun Jamban di Dukuh Terpencil

Kelompok mahasiswa Universitas Darul ‘Ulum Jombang (UNDAR) yang tengah melakukan kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di desa Kuncir kecamatan Ngetos Kabupaten Nganjuk melakukan aksi nyata dalam penuntasan masalah kebersihan lingkungan. Aksi nyata tersebut ditunjukkan dengan melakukan pembangunan jamban umum di salah satu dukuh terpencil di desa Kuncir.

Dukuh yang dimaksud adalah dukuh Loricek, dukuh yang terletak di pinggiran desa Kuncir dengan akses jalan yang cukup sulit. Bahkan menurut penuturan warga, jika musim hujan tiba akses jalan susah dilalui. Sejumlah titik jalan dengan kondisi naik turun bergelombang hingga berbatu terjal.

Dukuh kecil ini hanya mempunyai 14 Kepala Keluarga dengan jumlah jiwa hanya sekitar 60-an. Sayangnya, dukuh yang terletak di tengah hutan ini hanya memiliki satu jamban saja yang berada di rumah ketua RT setempat.

“Jamban umum di dukuh ini (Loricek) sangat dibutuhkan warga, sehingga harus kami wujudkan untuk mengatasi masalah sanitasi.” ungkap Hilmi, mahasiswa Fakultas Hukum selaku koordinator divisi Lingkungan dan Kesehatan.

Program pembangunan jamban oleh kelompok KKM UNDAR ini diapresiasi baik oleh pemerintah desa setempat. Dukungan dan bantuan pun kerap didapat para mahasiswa ini. Baik berupa perizinan yang dipermudah, higga fasilitator yang didapatkan.

“Kami sangat mengapresiasi pembangunan jamban umum ini karena sesuai dengan program pemerintah desa.” jelas Partono, Kepala Desa Kuncir dalam satu kesempatan.

Desa Mitra HMTL: Membantu Masyarakat Mendapat Air Bersih

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) ITB kembali menerapkan salah satu Tri Darma perguruan tinggi, pengabdian masyarakat, dengan melaksanakan Desa Mitra HMTL. Desa Mitra HMTL adalah kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh HMTL dengan memperbaiki serta mengembangkan infrastruktur sanitasi lingkungan desa. Kegiatan ini dilaksanakan akhir tahun 2012 silam pada November-Desember 2012, dengan menjadikan Desa Kidang Pananjung sebagai desa sasaran.

Desa Kidang Pananjung dipilih sebagai desa sasaran untuk melanjutkan program Desa Mitra HMTL 2010. Minimnya akses sumber air bersih untuk memenuhi kebutuhan harian penduduk menyebabkan desa ini terbelakang dalam bidang sanitasi lingkungan. Penduduk harus menempuh perjalanan sekitar 20 menit melalui medan yang curam untuk sampai pada sumber mata air bersih. Selain minimnya infrastruktur untuk distribusi air, infrastruktur sanitasi yang terbatas menyebabkan masih adanya budaya BAB sembarangan karena fasilitas MCK yang kurang memadai pula.

Melalui kegiatan Desa Mitra HMTL ini, para mahasiswa bahu membahu bersama penduduk setempat membangun sebuah infrastruktur untuk sistem pengadaan dan distribusi air bersih. Tahap pertama pembangunan terdiri dari penggantian toren air, pembuatan jalur distribusi air, dan penghancuran MCK yang sudah tidak berfungsi untuk diganti.

Menurut Tito Ariwibowo Darmawan, Ketua Desa Mitra HMTL 2012, penduduk Desa Kidang Pananjung menanggapi kegiatan ini dengan sangat positif. “Penduduk bersedia untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini mulai dari perancangan, pembuatan, sampai perawatan,” ujarnya.

Setelah pembangunan tahap pertama, dibuat sistem toren baru yang terdiri dari 1 toren bervolume 500 liter dan 1 toren bervolume 1000 liter. Sistem toren baru yang dilengkapi dengan toren-toren bervolume besar ini dimaksudkan untuk mengakomodasi kebutuhan penduduk akan air pada musim kemarau. Pada musim kemarau, mata air yang surut akan menyebabkan debit air mengecil pula, sehingga digunakan toren-toren bervolume besar agar tekanan air yang diterima warga tetap kencang.

Pelatihan Kerajinan Tangan dan Pemilahan Sampah

Pada kegiatan Desa Mitra HMTL ini diadakan pula kegiatan lainnya seperti pelatihan pembuatan kerajinan tangan dari sampah plastik untuk ibu-ibu di Desa Kidang Pananjung dan sosialisasi pemilahan sampah untuk anak-anak SD Wahilir. Para peserta yang mengikuti pelatihan pembuatan kerajinan tangan serta pemilahan sampah mengikuti acara dengan antusias.

Eksekusi final dari Desa Mitra HMTL dilakukan dengan para mahasiswa yang tinggal langsung bersama warga selama 2 hari untuk pendidikan hidup sehat, serta pembangunan tahap final. Pada area pembangunan toren, dibuat dinding fondasi untuk mencegah terjadinya longsor. Dengan adanya sistem baru distribusi air bersih dan infrastruktur sanitasi baru melalui Desa Mitra HMTL ini, diharapkan taraf kesehatan hidup penduduk Desa Kidang Pananjung dapat meningkat.

Monev PMDM Kecamatan Malili – Membenahi Sanitasi Lingkungan

Masyarakat sehat merupakan syarat mutlak menuju kemandirian dan kesejahteraan. Di Kecamatan Malili, PMDM mendorong perbaikan kesehatan lingkungan.

Monitoring-evaluasi WC di Desa Puncak Indah

Forum Lintas Pelaku (FLP) Kecamatan Malili melakukan monitoring-evaluasi di Desa Puncak Indah. Mereka mengunjungi penerima manfaat jamban keluarga sehat yang kini sudah meninggalkan kebiasaan BAB di “WC cemplung”.

Sebagai ibukota Kabupaten, sudah sewajarnya jika pembangunan pesat terjadi di Kecamatan Malili. Wilayah tersebut merupakan “etalase” bagi mereka yang ingin mendapatkan gambaran tentang Luwu Timur.

Namun tidak selamanya Malili memunculkan citra indah. Untuk urusan sanitasi lingkungan saja, Malili masih menyisakan celah yang besar untuk berbenah. Mendengar istilah WC cemplung, kita langsung membayangkan daerah pelosok yang tidak terjangkau akses jalan dan minim infrastruktur dasar. Nyatanya, WC seperti ini masih bisa dijumlai di rumah-rumah warga di Kelurahan Malili.

Padahal menurut standar kesehatan, ada tujuh syarat jamban sehat, yaitu tidak mencemari air, tidak mencemari tanah permukaan, bebas dari serangga dan binatang -binatang lain, tidak menimbulkan bau, mudah dibersihkan dan dirawat, nyaman digunakan, dan tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan. Dilihat dari kriteria tersebut, WC cemplung jelas tidak memenuhi standar kesehatan karena umumnya dibuat dengan jarak kurang dari 10 meter dari sumur air bersih, tidak pernah dibersihkan, disedot, maupun dikuras, mudah dijangkau serangga dan binatang lain, masih menimbulkan bau tak sedap, tidak nyaman digunakan, serta tidak enak dipandang.

Selama tiga tahun anggaran, Program Mitra Desa Mandiri (PMDM) merealisasikan pembangunan jamban keluarga sehat sebanyak 452 unit di seluruh Kecamatan Malili. Khusus untuk PMDM 2016, sebanyak 121 unit jamban dibangun di Kelurahan Malili (10), Desa Puncak Indah (15), Wewangriu (20), Baruga (9), Balantang (18), Pasi-Pasi (14), Laskap (18), Harapan (7), dan Desa Pongkeru (10).

Saat kunjungan ke penerima manfaat di Kelurahan Malili pada Februari 2017, Tim Monev menilai desain jamban yang dikerjakan sendiri oleh penerima manfaat telah baik dan sudah memenuhi kriteria jamban sehat.

Penyedia Layanan (PL) menyerahkan bantuan PMDM senilai Rp3,8 juta per unit dalam bentuk material, seperti semen, batako, pasir, batu kali, kloset, dan gorong-gorong. Penerima manfaat membeli sendiri material yang masih dianggap kurang, seperti keramik lantai, cat, serta bahan penutup atap.

Mengubah Pola Pikir

Di Desa Baruga, dana PMDM sektor ekonomi banyak diserap untuk mengembangkan kegiatan UMKM. Konkretnya, untuk pengadaan etalase dan gerobak dorong bagi pedagang kuliner serta penjual barang campuran di pasar dan beberapa lokasi strategis lain di desa tersebut. “Kami, Tim Monev, mendapatkan hal yang menarik ketika mendatangi pedagang-pedagang itu.

Ternyata masih ada penerima manfaat yang menyampaikan bahwa mereka sangat membutuhkan uang tunai untuk modal usaha. Rupanya konsep PMDM yang tidak memberikan stimulan berupa uang tunai belum sepenuhnya dipahami masyarakat. Namun setelah kami jelaskan secara rinci, ternyata mereka bisa menerima dan menganggap bantuan seperti ini lebih tahan lama dan bisa meningkatkan pendapatan untuk jangka panjang,” kata Fasilitator Teknik PMDM Alwi Chaidir.

Perubahan pola pikir seperti itulah yang menjadi sasaran PMDM. Selain mulai memikirkan keberlanjutan manfaat kegiatan, masyarakat juga mengubah pola pikir dari kegiatan yang bersifat keinginan dan kepentingan individu atau sekelompok orang, menjadi kegiatan yang mengutamakan kepentingan orang banyak.

Seperti pengerjaan talud dan penimbunan jalan di Kelurahan Malili yang telah membuka akses warga menuju jalan raya, sekolah, Posyandu, pasar, kebun, dan rumah ibadah. Kegiatan yang memberikan manfaat besar seperti itu dimasukkan warga ke dalam daftar usulan prioritas melalui musyawarah desa.TK Al-Mukminun, Desa Pasi-Pasi

Di siklus sebelumnya, TK Al-Mukminun di Desa Pasi-Pasi mendapatkan bantuan PMDM untuk perbaikan fisik bangunan utama, sekaligus melengkapi sarana belajar. Di 2016, PMDM merealisasikan pembangunan RKB tambahan di satu-satunya TK di Desa Pasi-Pasi tersebut.

Kegiatan lain yang menarik adalah pembangunan Ruang Kelas Belajar (RKB) TK Al-Mukminun di Desa Pasi-Pasi. Di tahun anggarannya sebelumnya, TK tersebut mendapat bantuan berupa pengecatan dan pengadaan alat permainan luar. Di tahun ketiga, dana PMDM sektor pendidikan sebesar Rp75 juta sepenuhnya dialokasikan untuk membangun tambahan satu RKB di TK Al-Mukminun, mulai dari pekerjaan pondasi hingga pemasangan atap.

Namun pekerjaan belum tuntas. Pekerjaan pemasangan pintu dan jendela kaca belum bisa dilakukan karena keterbatan anggaran. Kegiatan akan dilanjutkan di PMDM tahun anggaran berikutnya.

Di Desa Baruga, penambahan ruang kelas dilakukan di TK Al-Misfalah. Uniknya, TK Al-Misfalah mengusung konsep RKB terbuka agar siswa tidak jenuh belajar di dalam kelas terus-menerus.

Tim Monev di Kecamatan Malili menggarisbawahi bahwa proses kegiatan bisa berjalan dengan baik dan hasilnya memuaskan ketika pelaku PMDM di desa memiliki komitmen yang sama untuk bekerja sesuai aturan. Kegiatan menjadi tidak maksimal, atau bahkan gagal, ketika pelaku hanya mengejar keuntungan materi. Hal itu masih dijumpai di Kecamatan Malili.

Untuk fase-fase mendatang, peran masyarakat diperlukan untuk mengevaluasi kinerja pelaku PMDM. Dalam musyawarah pembentukan Komite Desa dan pemilihan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD), masyarakat hendaknya memilih kandidat yang punya semangat besar untuk mengabdi bagi masyarakat dan punya jiwa pemberdayaan.