Ada Warga di Jakbar BAB ke Kali, Sanitasi DKI Gimana sih?

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan bahwa kondisi ini masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Jakarta.

Sebagian warga Tanjung Duren Utara, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, masih buang air besar (BAB) sembarangan. Kotoran tidak dibuang ke septic tank, melainkan ke kali.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan bahwa kondisi ini masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Jakarta. “Ya itu memang PR kita di Jakarta,” kata Anies kepada wartawan di kediamannya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (5/10/2019), dikutip Detik.com.

Anies mengatakan, jajarannya sedang berupaya mengatasi persoalan ini. Pihak ibu-ibu PKK (pembinaan kesejahteraan keluarga) juga sedang mengidentifikasi kampung mana saja di wilayah Jakarta yang belum memiliki jamban sehat.

Lantas seberapa mengkhawatirkan kondisi ini?

Mengacu data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 Kementerian Kesehatan, prevalensi perilaku masyarakat BAB di jamban di Indonesia sebetulnya meningkat menjadi sebanyak 88,2%. Sebagai perbandingan, pada Riskesdas 2013, prevalensi masyarakat BAB sekitar 81% dan pada 2007 masih rendah yakni sekitar 70%.

Data Riskesdas ini mengacu pada penduduk usia di atas 10 tahun yang menjadi respondens. Adapun dari sisi wilayah, PemprovDKI sebetulnya berada di urutan tertinggi yakni 97,6%, disusul berikutnya DIY dan Sulawesi Utara masing-masing 96% dan 95%, terendah yakni Papua hanya sebesar 59% dan Kalimantan Tengah 78%.

Kementerian Kesehatan menegaskan sulitnya akses air bersih dan sanitasi yang buruk bisa memicu munculnya penyakit berbasis lingkungan seperti diare kronik danĀ stunting. Pemerintah mencanangkan 5 pilar dalam program Sanitasi Total Berbasis Lingkungan (STBM) untuk mengurangi penyakit tersebut.

Adapun 5 pilar itu, yakni berhenti buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, dan pengelolaan limbah cair rumah tangga.

‘Terkait dengan pendekatan keluarga, lima pilar ini adalah pendekatan untuk perubahan perilaku masyarakat. Tujuannya untuk menurunkan penyakit yang berbasis lingkungan. Termasuk juga stunting akibat diare kronik yang disebabkan kekurangan gizi, Dampaknya, pertumbuhan tubuh terganggu,’ kata Kementerian Kesehatan, dikutip Minggu (6/10/2019).

‘Ini yang saya sampaikan tentang lima pilar ini dan dengan 12 indikator keluarga sehat yang salah satu poin di dalamnya ada keluarga memiliki/memakai air bersih dan memakai jamban sehat. Tentunya akan memperkuat pencapaian keluarga sehat,” tulis situs Kemenkes.

Selain itu, data Kementerian Kesehatan menunjukkan secara nasional, akses sanitasi yang layak mencapai 68,06% data per hari. Kemudian desa dan kelurahan yang sudah bias berhenti buang air besar sembarang sekitar 8.429 desa dari total sekitar 82.000 desa.

Data Kemenkes mencatat, di DKI Jakarta total 73,69 % keluarganya sudah akses sanitasi yang layak.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *