Budi Laksono Penggagas Jambanisasi

Dok MI BUDI Laksono pernah dinilai sebagai sosok yang kontroversi di masyarakat karena gagasannya yang membuat kafe jamban dengan cara menyajikan makanan di atas wadah jamban. Rupanya, Budi menyadari bahwa untuk menyedot perhatian terhadap suatu hal tidak hanya dilakukan dengan cara yang ‘lurus’. Lewat melakukan suatu hal yang dinilai kontroversi, perhatian bisa diperoleh. Setelah perhatian didapatkan, barulah kita memberikan penjelasan mengenai hal tersebut. Sosok Budi bukan sekadar dokter yang mengobati pasien, melainkan juga yang menanamkan pentingnya kesehatan pada masyarakat. Penyakit saluran pencernaan yang menjangkit 100 ribu jiwa per tahun menjadi fokus dirinya sejak 1996. Budi tergerak untuk menekan angka kematian, akibat penyakit saluran pencernaan dengan mengampanyekan program jamban imunisasi keluarga di Jawa Tengah.

Budi juga memperkenalkan berbagai macam teknologi jamban yang bisa diaplikasikan di berbagai medan. Kedatangan Budi salah satunya ke daerah Bendosari, Semarang, untuk mengampanyekan penggunaan jamban diterima dengan baik oleh masyarakat. Sebagai pengajar disaster management Universitas Diponegoro (Undip), Budi kerap memberikan perhatian khusus bagi bencana alam juga. Pascatsunami Aceh 2004, dirinya membuat kapsul tsunami yang terinspirasi dari kapsul tsunami buatan Jepang. Namun, kapsul tsunami buatannya bisa dibuat dengan biaya terjangkau. Ayah dengan empat anak ini juga aktif mendatangi lokasi-lokasi bencana. Ia melihat, pada dampak bencana, sanitasi air menjadi salah satu hal yang sering kali terlupakan. Atas hal itu, dirinya membantu pembuatan jamban dan saluran sanitasi yang bisa diaplikasikan di lokasi bencana.

Baginya, bencana bukan hanya soal gempa bumi atau tsunami, melainkan juga penyakit yang mewabah dikatakan bencana. Ini yang membuatnya konsisten menyosialisasikan pentingnya memiliki jamban sehat. Berdasarkan pengalaman yang ia lalui saat mengunjungi desa, banyak sekali orang yang tidak memiliki jamban kerap melakukan aktivitas buang air ke sungai atau kebun. Hal itulah yang menurut pandangannya sebagai sebuah fenomena yang masih ada di Indonesia. Tidak aneh, warga internasional masih memandang Indonesia dalam konteks yang primitif. Konteks sosial Budi memaparkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang mengatakan sudah lebih dari 150 ribu kematian per tahun di Indonesia karena kurang memperhatikan kebersihan dalam penggunaan jamban dan sanitasi air. Secara presentasi untuk daerah seperti Papua, NTT, dan Bengkulu merupakan daerah yang memiliki persentase tinggi pada masyarakat yang tidak memiliki jamban. Sementara itu, untuk Pulau Jawa yang notabene penduduknya banyak rupanya memiliki persentase ketidakpunyaan jamban yang tinggi pula.

“Banyak dari kita yang selalu menyalahkan masyarakat, tetapi dalam konteks sosial bernegara itu sebenarnya kesalahan dari sistem yang tidak mendidik secara cukup. Saat ini masih kurang sekali informasi mengenai sanitasi bagi masyarakat. Inilah sesuatu yang harus kita ubah,” paparnya. Menurutnya, buang hajat yang sembarangan ini dapat menyebabkan penyakit, salah satunya cacingan. Setiap orang yang mempunyai cacing di dalam tubuhnya, dia akan mengeluarkan telurnya setiap saat buang hajat. Ketika membuangnya pada tempat yang sembarangan seperti sungai atau kebun, telur cacing akan dibawa lalat atau air. Saat masyarakat mencuci alat makannya dengan air yang tercemar itu atau saat lalat menempel pada makanan, di situlah siklus penyakit berlangsung. Dengan memiliki jamban, maka siklus tersebut bisa terputus. Budi menyampaikan sebetulnya tidak mahal untuk membuat suatu jamban yang sehat. Dirinya menyampaikan gagasan berupa stimulan generic, stimulan ini mampu membuat keluarga bisa membuat jamban sehat. Saat ini bisa dihargai sekitar Rp500 ribu sudah cukup menjadikan satu keluarga ini membangun jamban yang sehat.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *