Warga Kota Bogor Lebih Peduli Gawai Ketimbang Sanitasi

Sejumlah relawan membersihkan sampah dan limbah di aliran Sungai Ciliwung, beberapa waktu lalu. ANTARA FOTO
Sejumlah relawan membersihkan sampah dan limbah di aliran Sungai Ciliwung, beberapa waktu lalu. ANTARA FOTO
BOGOR – Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene (IUWASH) menyebutkan jumlah warga Kota Bogor, Jawa Barat yang buang air besar sembarangan masih tinggi. Salah satu faktornya, kesadaran masyarakat terhadap sanitasi yang terbilang rendah. “Kesadaran warga untuk sanitasi masih rendah karena belum dianggap sebagai kebutuhan. Kalah penting dengan gawai,” ujar Governance Specialist IUWASH, Kartika Hermawati saat ekspos dan diskusi dengan Pemerintan Kota (Pemkot) Bogor seputar penyediaan air bersih dan sanitasi di Taman Ekspresi, Kota Bogor, Rabu (18/9). IUWASH merupakan fasilitasi untuk meningkatkan perluasan akses terhadap air minum dan layanan sanitasi yang aman di Indonesia yang didukung Pemerintah Amerika Serikat melalui USAID. Tujuan utama IUWASH adalah  untuk  membantu Pemerintah Indonesia dalam mencapai target Millennium Development Goals (MDGs) Menurut Kartika, tak sedikit masyarakat yang masih membuang limbah rumah tangga di bantaran sungai, ataupun di jamban yang seadanya. Padahal, menurutnya toilet yang tidak dilengkapi pengolahan seperti septic tank, berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Faktor kedua, jika kesadarannya meningkat, tapi butuh biaya untuk merealisasikan. Karena, banyak warga di situ kategori masyarakat berpenghasilan rendah. “Selain itu, di bantaran sungai ini ada persoalan dari segi lokasi, geografis, kendala lahan, lahan yang kosong minim,” bebernya. Kartika mengatakan, penyediaan sarana dan prasarana air bersih dan sanitasi ini sejalan dengan program yang sedang Pemkot Bogor lakukan, yakni naturalisasi Ciliwung. “Setelah event ini, kami terus mendampingi masyarakat untuk advokasi rencana kerja mereka ke perangkat daerah mendapatkan pembiayaan. Advokasi ke lembaga keuangan mikro. Bisa pakai skema mikro kredit, atau CSR dan lain sebagainya,” terang Kartika. Sementara itu, Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto yang hadir dalam kesempatan tersebut menyatakan pentingnya sanitasi dan ketersediaan air bersih bagi warga. Pemkot Bogor, kata Bima, terus berupaya membangun infrastruktur pendukung dan juga kultur warga setempat. “Bapak ibu adalah agen perubahan untuk Kota Bogor. Makanya saya sering cerewet pada warga soal buang air sembarangan. Jadi Insyaallah ke depan kita fokus untuk membangun septic tank dan lain lain. Nanti ke depannya kita terapkan perda, buang air sembarangan akan didenda sekian,” kata Bima. Kasi Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Bogor, Farida mengapresiasi langkah IUWASH. Menurutnya dengan begitu, masyarakat dipacu untuk peningkatan kesadaran dalam mengelola air minum dan sanitasi. “Mengajak masyarakat untuk berperilaku yang baik, dapat mengakses sanitasi yang aman dan air minum yang memenuhi syarat,” ujar Farida. Menurut penelitian Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Kota Bogor, diketahui 4.989 rumah di Kota Bogor membuang tinja langsung ke Sungai Ciliwung. Data ini merupakan hasil penelitian KPC Kota Bogor terhadap ribuan rumah yang berdiri di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung. KPC melansir hasil penelitian itu pada April 2019, dengan mendata ribuan rumah ini tersebar di 13 kelurahan yang lokasinya bertepatan dengan DAS Ciliwung. Meski mayoritas rumah itu memiliki jamban, tak satu pun yang memiliki tangki septik. Hal ini membuat tinja dari jamban langsung dialirkan ke bibir sungai. Jika dirinci berdasarkan kelurahan, katanya, jumlahnya terbagi atas 183 rumah di Sindang Rasa, 360 rumah di Katulampa, 257 rumah di Tajur, 514 rumah di Baranangsiang, dan 663 rumah di Sukasari. Berikutnya, 663 rumah di Babakan Pasar, 828 rumah di Sempur, 803 rumah di Bantarjati, 113 rumah di Tanahsareal, 918 rumah di Cibuluh, 188 rumah di Kedung Badak, 157 rumah di Kedung Halang, dan lima rumah lainnya di Sukaresmi. Selain tinja, ribuan rumah di Kota Bogor, Jawa Barat, ini membuang sampah rumah tangga ke Sungai Ciliwung. Tercatat, ada sekitar 5.652 rumah di Kota Bogor yang masih membuang sampah ke Ciliwung.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *