Aspek Sanitasi dan Standar Makanan Jajanan

Makanan jajanan adalah makanan dan minuman yang diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran, dan hotel. Sedangkan pengertian penanganan makanan jajanan  adalah kegiatan yang meliputi pengadaan, penerimaan bahan makanan, pencucian, peracikan, pembuatan, pengubahan bentuk, pewadahan, penyimpanan,  pengangkutan, penyajian makanan atau minuman. Makanan jajanan yang juga dikenal sebagai street foods adalah jenis makanan yang dijual di kaki lima, pinggiran jalan, di stasiun, di pasar, tempat pemukiman, serta lokasi yang sejenis. Secara prinsip, pada umumnya makanan jajanan terbagi menjadi empat kelompok yaitu :
  •     Makanan utama atau main dish seperti bakso, mie ayam.
  •     Penganan atau snack seperti makanan kemasan, kue-kue.
  •     Minuman seperti berbagai macam es dan minuman kemasan.
  •     Buah-buahan segar seperti mangga, melon.
Kita mengenal kehadiran makanan jajanan ini lebih dominan di sekolah. Bagi anak sekolah, makanan jajanan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan sehari-hari mereka. Makanan jajanan digunakan sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah karena keterbatasan waktu orang tua mengolah makanan di rumah. Selain murah makanan jajanan juga mudah didapat. Berdasarkan kondisi ini seharusnya makanan jajanan dapat dikelola menjadi produk sehat yang aman dikonsumsi. Makanan jajanan sehat adalah makanan­ yang memiliki ciri sebagai berikut:
Standar Kesehatan Makanan Jajanan
  • Bebas dari lalat, semut, kecoa dan binatang lain yang dapat membawa kuman penyakit.
  • Bebas dari kotoran dan debu lain.
  • Makanan yang dikukus, direbus, atau digoreng menggunakan panas yang cukup artinya tidak setengah matang.
  • Disajikan dengan menggunakan alas yang bersih dan sudah dicuci lebih dahulu dengan air bersih.
  • Kecuali makanan jajanan yang di bungkus plastik atau daun, maka pengambilan makanan lain yang terbuka hendaklah dilakukan dengan menggunakan sendok, garpu atau alat lain yang bersih, jangan mengambil makanan dengan tangan.
  • Menggunakan makanan yang bersih, demikian pula lap kain yang digunakan untuk mengeringkan alat-alat itu supaya selalu bersih.
Sedangkan makanan jajanan yang aman merupakan makanan yang mempunyai syarat-syarat sebagai berikut:
  • Tidak menggunakan bahan kimia yang dilarang.
  • Tidak menggunakan bahan pengawet yang dilarang.
  • Tidak menggunakan bahan pengganti rasa manis atau pengganti gula.
  • Tidak menggunakan bahan pewarna yang dilarang.
  • Tidak menggunakan bumbu penyedap masakan atau vetsin yang berlebihan.
  • Tidak menggunakan air yang dimasak dengan tidak matang.
  • Tidak menggunakan bahan makanan yang sudah busuk, atau yang sebenarnya tidak boleh diolah, misalnya telah tercemari oleh obat serangga atau zat kimia yang berbahaya.
  • Tidak menggunakan bahan makanan yang tidak dihalalkan oleh agama.
  • Tidak menggunakan bahan makanan atau bahan lain yang belum dikenal. oleh masyarakat.
Masalah utama yang harus kita diperhatikan terkait dengan makanan jajanan adalah buruknya sanitasi dan tidak terjaminnya kebersihan dalam mengolah dan menyajikan makanan sehingga dapat mengakibatkan masalah kesehatan masyarakat.

HYGIENE DAN SANITASI MAKANAN

Hygiene dan sanitasi mengacu pada, lingkungan sehat mencakup lingkungan pemukiman, tempat kerja, tempat rekreasi serta tempat dan fasilitas umum. (UU NO. 36/2009 tentang Kesehatan PS. 163). Pengelolaan makanan oleh jasa boga harus memenuhi hygiene dan sanitasi yang dilakukan sesuai cara pengolahan makanan yang baik (PERMENKES RI NO 1096/MENKES/PER/VI/2011 Tentang higiene dan sanitasi jasa boga).Hygiene adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan subjeknya. Sanitasi adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan lingkungan dari subjeknya. Tujuan utama Hygiene dan Sanitasi yaitu mencegah kontaminasi makanan oleh bakteri, mencegah perkembangbiakan bakteri dan mencegah terjadinya kontaminasi silang dan rekontaminasi.Dasar penyelenggaraan hygiene dan sanitasi pangan terdapat dalam: UU NO 18 TAHUN 2012 tentang Pangan pasal 70 dan 71. PP No 28 thn 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1209/MENKES/KEP/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. PERMENKES RI NO 1096/MENKES/PER/VI/2011 tentang higiene dan sanitasi jasaboga. UU RI NO 36 Th 2009 tentang Kesehatan.6 prinsip hygiene dan sanitasi makanan:Bahan makanan hedaklah dipilih yang bagus dan berkualitas, karena bagus penampilannya tidak selalu berkualitas. Penampilan yang bagus tapi  warna mencolok dikhawatirkan itu bukan pewarna makanan yang akan dapat membahayakan kesehatan. 1. Pemilihan Bahan Makanan Secara umum pilih lah yang bersih, tidak bau, tidak berubah warna serta segar dan tidak berulat untuk sayur – sayuran. Bahan makanan yang  dalam bentuk kemasan harus memperhatikan tanggal kadaluarsanya. 2. Penyimpanan Bahan Makanan Bahan makanan yang belum dimasak harus di simpan di lemari pendingin untuk menghindari kerusakan atau pembusukan bahan makanan 3. Persiapan dan Pengolahan makanan Makanan harus diolah dengan alat atau wadah yang bersih, dan tenaga yang mengolah/ menjamah makanan harus menjaga hygiene dan sanitasi personalnya yaitu dengan memakai Alat Pelindung Diri (APD) pada saat persiapan, pengolahan makanan bahkan sampai makanan disajikan ke pelanggan. 4. Penyimpanan Makanan Masak/Matang Makanan matang di simpan dalam wadah yang “Safety”, yaitu bersih dan tidak menggunakan wadah yang dapat membahayakan bagi kesehatan. Makanan harus dalam keadaan tertutup, sehingga terhindar dari debu, serangga dan lain-lain 5. Pengangkutan makanan Pada prinsipnya sama dengan penyimpanan makanan masak/matang dan dalam proses pengangkutan harus menggunakan wadah atau alat yang tidak rawan tumpah. 6. Penyajian Makanan Makanan disajikan dalam wadah yang bersih, tertutup dan pramusaji makanan harus memakai APD sesuai standar.Dengan demikian diharapkan makanan yang disajikan ke pelanggan adalah makanan yang memenuhi syarat kesehatan sehingga dapat bermanfaat untuk kesehatan orang  pelanggan yang mengkonsumsinya.

Gerakan Sanitasi dan Toilet Bersih, Cegah Merebaknya Penyakit dan Kematian Warga

Persoalan sanitasi masih menjadi permasalahan besar di Indonesia, di mana masih banyak masyarakat yang belum memiliki akses toilet. Hal ini tentu berisiko besar mencemari lingkungan, mempengaruhi kesehatan hingga menyebabkan kematian bagi warga sekitar. Menurut laporan World Bank’s Water and Sanitation Program (WSP) dalam Economic Impact of Sanitation in Indonesia, sanitasi buruk menjadi penyumbang bagi meningkatnya penyakit diare, di mana anak-anak menjadi korban terbanyak. Setidaknya ada empat dampak sanitasi buruk pada kesehatan antara lain penyakit diare, tifus, polio, dan penyakit cacingan. Untuk mencegah meluasnya dampak tersebut, masyarakat perlu memiliki kesadaran terhadap pentingnya sanitasi. ”Masih banyak masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi layak. Sehingga buang air besar di ruang terbuka menjadi permasalahan global yang harus segera diatasi. Berbekal pengalaman 100 tahun memberikan akses terhadap toilet bersih dan higienis, Harpic berkomitmen untuk menjadi bagian dalam mengatasi krisis kebersihan dan sanitasi global ini. Tak hanya itu, kami menggandeng  mitra seperti Water.org Indonesia, dan  Koperasi Simpan Pinjam Mitra Dhuafa (Komida)meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya perubahan perilaku hidup bersih dengan toilet dan sanitasi layak. Sehingga tidak ada lagi masyarakat yang buang air besar sembarangan,” papar General Manager Reckitt Benckiser Hygiene Home Indonesia, Karim Kamel, dalam acara Donasi dan Aksi Gerakan Toilet Bersih di Jakarta, dalam rilisnya baru-baru ini. Pihaknya menambahkan sebagai langkah awal berkontribusi melalui kampanye Aksi Toilet Bersih. Kampanye ini dimulai dengan ide yang sederhana, dengan membeli dua produk Harpic untuk membersihkan toilet rumah melalui e-commerce Shopee dan Lazada, pembeli berkesempatan untuk menyumbangkan satu produk yang sama bagi mereka yang membutuhkan akses terhadap toilet bersih. Kampanye ini dimulai sejak 27 November sampai dengan 30 Desember 2019 dan berlangsung di seluruh Indonesia. Dari kampanye tersebut, Harpic berhasil mengumpulkan 3.545 produk yang setelahnya akan didonasikan kepada KSP Komida. ”Kampanye ini tidak hanya sekedar membeli dan mendonasikan produk, namun juga sebagai gerakan peningkatan kesadaran akan pentingnya akses sanitasi layak bagi kesehatan masyarakat. Dengan turut serta dalam kampanye ini, masyarakat tak hanya mendapatkan toilet rumah yang 10 kali lebih bersih namun secara bersamaan berkotribusi untuk memberikan akses terhadap toilet dan sanitasi bersih bagi saudara kita yang membutuhkan,” ujar Marketing Director Reckitt Benckiser Hygiene Home Indonesia, Luis Ramirez. Operations Director Water.org Indonesia, Don Johnston, mengatakan Indonesia adalah negara terpadat keempat di dunia dimana hampir 28 juta orang kekurangan air bersih. Dan 71 juta orang tidak memiliki akses ke fasilitas sanitasi yang lebih baik. Dan bagi jutaan keluarga Indonesia yang berpenghasilan rendah, sambungan atau sumur air baru dan toilet yang lebih baik tidak dapat dijangkau. Sehingga dibutuhkan bantuan investasi dari berbagai pihak. Sementara itu, Direktur Operasional KSP Komida, Sugeng Priyono, menambahkan, dari 735.957 anggota yang tersebar di 287 kabupaten dan daerah di Indonesia, hanya 551.435 anggota yang memiliki toilet dan septictank. Sedangkan ada 105.821 anggota memiliki toilet namun tidak tersambung septictank dan 78.701 anggota yang belum memiliki toilet. ”Masih banyak anggota yang tidak mempunyai toilet ataupun sanitasi kurang layak, dan masih banyak perilaku buang air besar sembarangan di jamban samping sungai karena faktor kebiasaan. Jika terus dibiarkan, hal ini akan berpengaruh terhadap kesehatan keluarga dan anak-anak, karena penyakit diare akibat dari buang air besar sembarangan. Maka merupakan aksi nyata Komida dengan memfasilitasi anggota berupa pinjaman sarana air bersih dan sanitasi. Oleh karena itu kami sangat bersyukur Harpic turut ambil bagian dalam upaya menyediakan toilet yang lebih bersih bagi masyarakat melalui kampanye Aksi Toilet Bersih ini,” kata Sugeng.