Duta Sanitasi dan Air Bersih

www.nusabali.com-duta-sanitasi-dan-air-bersih
  Aktor kenamaan Nicholas Saputra sering menjelajahi wilayah-wilayah di Indonesia. JAKARTA, NusaBali Selain senang berwisata alam, pemeran Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta? ini juga sering terlibat aktif membantu berbagai macam kegiatan lingkungan hidup. Kini, kebiasaannya tersebut berbuah hasil. Nicholas Saputra mendapat kepercayaan untuk menjadi Duta Nasional UNICEF Indonesia. Tepat Senin (11/11), Nicholas didapuk menjadi Duta Nasional UNICEF Indonesia selama dua tahun ke depan. Ia mengemban tugas khusus untuk mengkampanyekan sanitasi dan air bersih di seluruh pelosok negeri. Meskipun sudah sering ikut andil dalam banyak kegiatan peduli lingkungan hidup, aktor kelahiran 1984 ini tidak pernah mau dipanggil sebagai ambassador. “Dari dulu saya enggak mau disebut sebagai ambassador. Baru kali ini saya sepakat, oke mau disebut sebagai ambassador karena biasanya walaupun saya membantu, saya minta dibilang volunteer,” ujar Nicho saat ditemui di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin (11/11). Menurut Nicholas, waktunya yang terbatas membuat dirinya tak pantas disebut sebagai duta. “Karena pada saat itu kemampuan saya dari secara waktu juga tidak lulus, tidak banyak. Jadi saya lebih untuk memilih projek-projek yang bisa saya lakukan secara singkat,” lanjutnya. Untuk sekarang, Nicholas Saputra memantapkan hati dan komitmennya bersedia menjadi seorang duta nasional. “Tapi kali ini, long-term komitmen dua tahun, oke kita bikin plan dan tentu harus sepakat untuk dibilang ambassador,” kata Nicho seperti dilansir kompas. Ditambah lagi, lawan main Dian Sastrowardoyo ini mengaku miliki kesamaan visi dengan UNICEF. “Terutama ini komitmen yang cukup panjang. Jadi waktu, kesamaan interest, keseriusan sebuah lembaga, itu menjadi pertimbangan saya juga untuk bisa ikut terlibat. Saya mau memastikan bahwa ini bisa memberikan impact yang luas bagi apapun yang saya suarakan,” ungkap Nicholas. “Yang paling penting adalah bagaimana saya bisa membantu menyuarakan suara dan hak mereka (anak-anak Indonesia),” ucap Nicho demi mewujudkan kesejahteraan hidup generasi mendatang. Tepat Senin (11/11), Nicholas didapuk menjadi Duta Nasional UNICEF Indonesia selama dua tahun ke depan. Ia mengemban tugas khusus untuk mengkampanyekan sanitasi dan air bersih di seluruh pelosok negeri. *

Infrastuktur Daerah Pelosok Perlu di Perhatikan

Infrastruktur menjadi salah satu faktor penting dalam penunjang peningkatan kesejahteraan masyarakat. Itulah sebabnya, meningkatan infrastruktur harus selalu mendapatkan dorongan dari berbagai pihak, terlebih lagi di daerah pelosok yang masih membutuhkan banyak dukungan. Itulah yang dilakukan anggota Komisi D DPRD Jatim Dini Rianty. Politisi dari Fraksi Demokrat ini mengedepankan pembangunan infrastruktur daerah pedesaan. Agar lebih optimal, dini pun mengumpulkan warga untuk menampung aspirasi mereka, sehingga diketahui daerah mana yang menjadi perioritas terlebih dulu. “Di Dapil VII itu masih banyak daerah yang memerlukan dukungan infratruktur, terutama di daerah pelosok-pelosok,” katanya. Dini pun menjelaskan lebih lanjut, dengan pembangunan infratruktur khususnya jalan akan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. Kondisi jalan yang layak dan bagus tentunya membuat mobilitas masyarakat dalam mengangkut hasil bumi lebih lancar. Perhatian anggota DPRD Jatim dari Dapil VII ini ternyata tidak hanya difokuskan pada daerah pelosok saja, namun daerah yang sudah berada di kawasan perkotaan juga tetap tidak luput. Hal itu membuktikan bahwa Dini ingin benar-benar berbuat adil dan merata pada seluruh masyarakat. Di kawasan perkotaan, yang menjadi fokusnya juga tetap masalah infrastruktur. Diantaranya adalah kebutuhan jalan lingkungan berupa pavingisasi. Dengan demikian maka jalan lingkungan di perkotaan akan lebih indah. Saluran air serta pemenuhan kebutuhan air bersih serta sanitasi lingkungan juga tidak lepas dari perhatian Dini. (Fafa)

Akses Air Bersih dan Sanitasi Untuk 750 Ribu Masyarakat di Pelosok

Hal yang dekat dengan kita di kota besar, yakni akses air bersih dan sanitasi, bisa jadi hal yang jauh dari gapaian di area-area terpencil. Bayangkan ketiadaan akses ini di tengah keluarga yang membutuhkan asupan air minum yang baik, hingga keinginan berada di lingkungan yang lebih bersih. Dialog “Water For All : Empowering Community Through Water Credit Initiatives” di Ideafest 2019 pada Minggu 6 Oktober 2019, mengangkat terobosan PAMDS (Pembiayaan Air Minum dan Sanitasi). WaterCredit namanya, inovasi ini didorong oleh Water.org (lembaga nirlaba), Kementerian PUPR, Danone (swasta), dan Bappenas. Collective movement yang unik ini menjembatani antara akses air minum dan sanitasi dengan lembaga keuangan. Mudahnya, ini pinjaman terjangkau untuk rumah tangga, kelompok masyarakat, atau penyedia layanan air minum dan sanitasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan capaian akses air bersih yang layak saat ini di Indonesia mencapai 72,55%, sementara target Sustainable Development Goals (SDGs) sebesar 10%.  “Setiap elemen masyarakat sepatutnya mendukung rencana pemerintah untuk memberikan akses air bersih bagi 100% warga Indonesia. Untuk itu, kami bersama-sama mendorong inisiatif PAMDS,” ucap Rachmad Hidayat Chief Representatives Water.org. Sejak dimulai inisiatif ini pada 2014, beberapa lembaga keuangan telah menyalurkan lebih dari 190,000 pinjaman setotal Rp542 milyar. Dengan pinjaman via bank maupun koperasi, lebih dari 750.000 jiwa berhasil memiliki akses air dan sanitasi. Skema pinjaman mikro PAMDS dapat lebih menjamin keberlanjutan program sejenis dibanding bantuan langsung yang dapat terputus bila donasinya dihentikan. Gaya skema peminjaman juga memastikan penerima manfaat memiliki tanggung jawab moral untuk  memelihara fasilitas terbangun.