Kebersihan Diri dan Datangnya Corona di Indonesia

Beberapa hari ini ramai pemberitaan tentang datangnya virus novel corona di Indonesia. Sebagian masyarakat meresponnya dengan panik, namun ada juga tenang dan berpikir badai pasti berlalu. Kementerian Kesehatan selaku penjaga gawang dalam kesehatan bangsa tidak tinggal diam, dikatakan bahwa penting untuk menjaga kebersihan diri untuk menangkal corona.
musim pancaroba
Virus novel corona sendiri memiliki sifat self limiting disease, sama dengan sifat virus pada umumnya. Artinya secara alamiah tubuh kita bisa membuat lemah virus tersebut. Ibarat dalam sebuah peperangan, ketika musuh sudah mulai lelah bertarung, kamu sebagai salah satu pihak yang berseteru pasti bisa dengan mudah menggilas si lawan tanding. Namun sayangnya, kehadiran virus tersebut sudah terlanjur menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang. Apalagi diberitakan bahwa virus tersebut bisa dengan mudah menular dan menimbulkan kematian bagi penderitanya. Padahal beberapa ahli kesehatan sudah menyatakan, penyebaran virus corona bisa dicegah dengan menerapkan budaya kebersihan diri. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Bagaimana tingkat kebersihan dirinya?

1. Hanya 20% yang sadar akan kebersihan

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jumlah orang yang sadar akan kebersihan dan kesehatan hanya mencapai 20% dari total jumlah penduduk. Hal itu bukanlah sesuatu yang asyik untuk di dengar. Oleh karena itu, penting bagi siapa saja, baik itu tua muda, karyawan atau pebisnis untuk terus menggaungkan budaya hidup bersih. Karena dengan bisa menerapkan budaya tersebut, secara alamiah sel yang ada di tubuh kita akan menjadi lebih kuat dan mumpuni. Virus dan juga bakteri dapat dengan mudah ditumpas oleh imunitas tubuh sepanjang kamu bisa mempertahankan budaya hidup bersih.

2. 40,2% rumah tangga tidak memiliki akses sanitasi memadai

Berdasarkan riset juga disebutkan bahwa hanya 59,8% rumah tangga yang memiliki akses sanitasi yang memadai. Sementara sisanya masih harus menerima keadaan, bahwa lingkungan tempat tinggalnya belum memiliki sarana sanitasi yang layak. Masih kurangnya pemahaman tentang apa itu air bersih dan bagaimana cara yang baik untuk mendapatkannya membuat sebagian orang masih saja menempatkan sumur airnya berdekatan dengan lokasi pembuangan kotoran. Selain itu, masyarakat yang berada di pedalaman dan belum tersentuh oleh akses jalan juga kesulitan untuk menemukan sumber air bersih. Padahal kualitas air sangat menentukan kondisi kesehatan pribadi seseorang. Dengan air yang baik pula, kamu bisa terhindar dari segala macam penyakit. Apalagi kandungan air dalam tubuh manusia berada di rentang 70%. Artinya manusia sebagai makhluk hidup membutuhkan banyak air untuk bisa hidup dengan baik.

3. Kurangnya kebiasaan cuci tangan dan sikat gigi

Selain untuk makan, mulut juga berperan sebagai gerbang masuknya beragam penyakit. Tangan yang jarang dicuci lalu digunakan untuk makan merupakan pemicu dari terjadinya penyakit. Setidaknya hampir separuh dari total jumlah penduduk di Indonesia tidak begitu sadar pentingnya mencuci tangan. Munculnya virus novel corona bisa dicegah dengan sering cuci tangan menggunakan sabun. Kegiatan tersebut juga masuk dalam upaya menjaga kebersihan diri Jangan juga lupa untuk melakukannya dengan benar. Paling tidak kamu membutuhkan waktu sekitar 1 menit untuk mencuci dan membilasnya dengan bersih. Sebelum makan dan minum atau setelah menempuh perjalanan jauh, jangan lupa untuk selalu mencuci tangan.

4. 97% penderita Corona bisa sehat

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan kemungkinan sembuh dari paparan virus novel corona mencapai 97%. Masyarakat juga diminta untuk tidak panik menghadapinya. Metode penyembuhan yang diterapkan bagi penderita adalah dengan pengobatan terapi simtomatik dan suportif. Metode tersebut merupakan jenis pengobatan untuk mengurangi gejala dan meningkatkan daya tahan tubuh tubuh. Jadi memang daya tahan tubuh yang menjadi kunci untuk sembuh dari novel corona. Kamu bisa belanja makanan kesehatan di berbagai platform e-commerce dengan menggunakan Kredivo. Dapat barangnya sekarang, bisa bayar belakangan. Uniknya lagi tenor bisa kamu tentukan. Suku bunga yang ditawarkan merupakan suku bunga terbaik yang bisa kamu dapatkan.

SANITASI LINGKUNGAN BERDAMPAK PADA KUALITAS AIR

Pembuangan kotoran baik sampah, air limbah dan tinja yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menyebabkan rendahnya kualitas air, serta dapat menimbulkan penyakit menular di masyarakat. Jamban, tempat sampah, pengelolaan limbah dan persediaan air bersih merupakan sarana lingkungan pemukiman (PLP). Kondisi sarana penyehatan lingkungan pemukiman di Kabupaten Bone Bolango Tahun 2010 dari 18.401 KK yang diperiksa, sebagai berikut : •Persentasi KK yang telah memiliki sarana air bersih dari yang diperiksa sebesar 45,11 %, persentasi ini turun dari tahun kemarin yang sebesar 70,4 % •Persentasi KK yang telah memiliki jamban dan memenuhi syarat kesehatan untuk tempat Buang Air Besar (BAB) dari yang diperiksa sebesar 76,56 %, persentasi ini naik sangat dratis dari tahun kemarin yang hanya 9,9 % •Persentasi KK yang telah memiliki tempat sampah dari yang diperiksa sebsar 71 %, turun dari tahun kemarin yang mencapai 85,3 % •Persentasi KK yang telah memiliki pengolahan air limbah dari yang diperiksa sebesar 51,11 % turun sekitar 8,31% dari tahun 2009. Sanitasi merupakan faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat. Banyaknya penyakit ditularkan karena tidak dilakukan cara-cara penanganan sanitasi yang benar. Upaya peningkatan kualitas air bersih akan berdampak positif apabila diikuti upaya perbaikan sanitasi. Upaya sanitasi meliputi pembangunan, perbaikan dan penggunaan sarana sanitasi, yaitu : pembuangan kotoran manusia (jamban), pembuangan air limbah (SPAL) dan pembuangan sampah di lingkungan rumah kita. Sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk di wilayah Bone Bolango maka kebutuhan air bersih semakin bertambah. Pembangunan air bersih di masing-masing wilayah kerja Puskesmas meliputi daerah Pemukiman. Peran lintas sektor pun menjadi salah satu faktor yang akan mempengaruhi, antara lain peran dari pihak PU Kimpraswil. Adapun sumber air di Kabupaten Bone Bolango pada umumnya berasal dari mata air, sumur dalam, sumur gali dan air permukaan. Sistem yang digunakan untuk mensuplai air bersih melalui perpipaan dan non perpipaan. Untuk pengelolaannya pada daerah pemukiman di perkotaan pada umumnya dikelola PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Kabupaten.Gunakan HYDRO alat penjernih air untuk mempermudah masyarakat dalam memperoleh air bersih, sehat dan berkualitas.

Permasalahan Sanitasi

Permasalahan Ada beberapa jenis permasalahan dasar yang terkait dengan sistem pengelolaan sanitasi, yaitu: akses dan kualitas pengelolaan yang rendah, kelembagaan yang belum efektif dan efisien termasuk belum lengkapnya peraturan perundang-undangan yang terkait, terbatasnya alternatif pendanaan pembangunan, dan rendahnya peran masyarakat dan swasta. Persoalan Akses dan Kualitas Berdasarkan data Susenas, untuk fasilitas sanitasi, pencapaian Indonesia sempat meningkat tinggi dari tahun 1992 (30,9%) sampai dengan tahun 1998 (64,9%), dimana dalam enam tahun terjadi peningkatan sebanyak tiga kali lipat. Walaupun demikian, sejak tahun 1998 pertumbuhan akses ini melambat, bahkan sempat menurun di tahun 2000 (62,7%) dan 2002 (63,5%) karena tingkat pertumbuhannya tidak sebanding dengan tingkat pertumbuhan penduduk. Data terakhir untuk tahun 2004, proporsi rumah tangga yang memiliki akses pada fasilitas sanitasi yang layak, artinya menggunakan tangki septic atau lubang sebagai tempat pembuangan akhir mencapai dua pertiga dari seluruh rumah tangga di Indonesia (67,1%). Dari data di atas, tampaknya akses masyarakat pada fasilitas sanitasi yang layak cukup tinggi, sayangnya tingkat aksesibilitas ini tidak memperhitungkan kepemilikian atau tingkat penggunaan jamban itu sendiri. Padahal, menurut definisi dari UN-HABITAT, jamban yang layak sebaiknya digunakan oleh jumlah orang yang terbatas. Data tersebut juga belum menjelaskan kualitas jamban, apakah berfungsi dengan baik, apakah sesuai dengan peruntukannya, dan apakah sesuai dengan standar kesehatan maupun teknis yang telah ditetapkan. Persoalan Kelembagaan Pemerintah Daerah yang menjadi garda terdepan pengelolaan air limbah (sanitasi) masih belum dilengkapi dengan kebijakan dan pengaturan soal organisasi dan tata kerja institusi atau lembaga yang bertugas mengelola prasarana dan sarana yang ada. Perangkat pengaturan masih jauh dari operasional sehingga pengelolaan, terutama pemeliharaan, prasarana dan sarana menjadi terbatas. Lebih jauh lagi, data-data yang reliable dan valid atas prasarana dan sarana air limbah sangat terbatas sehingga sulit untuk melakukan identifikasi kebutuhan peningkatan pelayanan. Persoalan Perhatian, Pendanaan, dan Dampak Lingkungan Minimnya kepedulian pemerintah dan wakil rakyat akan persoalan sanitasi tercermin dari alokasi anggaran yang sangat sedikit untuk pembangunan fasilitas sanitasi dasar. Padahal, bahaya kerusakan lingkungan dan menurunnya kualitas air baku karena kurangnya perhatian pada masalah sanitasi dapat menyebabkan upaya perbaikan yang 10 kali lebih mahal daripada biaya pencegahannya. Perhatian yang terbatas kepada air limbah juga ditandai dengan keterbatasan pilihan teknologi alternatif sehingga aplikasinya pada masalah dan lingkungan yang beragam, misalnya untuk jenis buangan padat dan cair, dari kawasan industri maupun rumah tangga, menjadi jauh dari optimal. Penyakit seperti diare dan malariapun biasa muncul pada daerah dengan sanitasi buruk. Data dari survey sumur dangkal di Jakarta menyatakan bahwa 84% dari sample menunjukkan adanya pencemaran terhadap air tanah (Laporan Pencapaian MDG Indonesia 2004). Persoalan Kesadaran Masyarakat Sanitasi juga masih menjadi masalah pelik, terutama di daerah perdesaan, karena rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat. Hal ini menyebabkan banyaknya jamban yang tidak digunakan sebagaimana mestinya karena ketidakmengertian masyarakat. Sayangnya LSM yang bergerak di bidang sanitasi masih sangat sedikit. Keterlibatan dan komitmen pemangku-kepentingan (stakeholder) termasuk pemerintah, para wakil rakyat, dunia usaha, dan warga masih jauh dari kemampuan untuk bersama-sama berembug dan bertindak sesuai kesepakatan peran dan kewajiban untuk mengelola air limbah.