Begini Pengelolaan Air Bersih di Kampung Sanitasi Semanggi

Sutinah duduk menjaga kotak iuran di tempat mandi cuci kakus (MCK) yang dikelola Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Dabagsari Makmur di Pasar Kliwon, Surakarta. Itulah rutinitas keseharian perempuan berusia 66 tahun ini. “Ada lima kamar mandi dan toilet untuk RW 23. Dulu hanya satu MCK dengan kondisi tak layak,” katanya, akhir Februari. Sebelum ada Kampung Sanitasi di Semanggi, belum ada air bersih untuk minum dan mandi ke rumah-rumah. Kalaupaun ada, air antri sejak subuh. Untuk buang air besar, mandi dan mencuci baju, warga menggunakan air Sungai Bengawan Solo, berjarak 100 meter. Ada pula warga membungkus kotoran pakai plastik dan dibuang di got. Bau menyengat dan air got kotor menjadi pemandangan biasa tahun 1990-an. “Ada Kampung Sanitasi banyak me gubah hidup masyarakat jadi lebih bersih dan sehat.” Sudrajat, Ketua KSM Dabagsari Makmur menceritakan, Kampung Sanitasi Semanggi ini sangat ditunggu-tunggu masyarakat RW 23. Mulanya, sebelum 2012 ada satu MCK satu RW. Jumlah tak sebanding, hingga disepakati pengajuan penambahan kepada Pemerintah Solo. Pengurus RW juga prihatin warga buang air besar sembarangan. Air bersih untuk mandi dan minum tak ada. Permohonanpun, katanya, disetujui Pemerintah Solo dibantu Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene (IUWASH). Kala MCK dan IPAL komunal di Semanggi disetujui, tak langsung dibangun. Ada penolakan warga. Alasan mereka ada bilang MCK tak praktis, enak di sungai. Ada yang bilang, MCK banyak perawatan hingga mencemarkan lingkungan. Mereka juga beralasan, RW-23 pernah lewat instalasi limbah milik IPAL milik PDAM. Berkat kekompakan dan penjelasan tatap muka serta studi banding ke lokasi lain yang menerapkan MCK, akhirnya mereka sadar. “Akhirnya dibangun MCK, sistem air bersih perpipaan melalui master meter dan IPAL komunal.”
Jika dulu masyarakat harus membeli air dengan antri dan menggunakan ember, saat ini mereka bisa memompa air besih di rumah mereka. Foto: Tommy Apriando
Jika dulu masyarakat harus membeli air dengan antri dan menggunakan ember, saat ini mereka bisa memompa air besih di rumah mereka. Foto: Tommy Apriando
Pada 13 Mei 2014, Kampung Sanitasi Semanggi, diresmikan Walikota Solo, FX Hadi Rudiyatmo dan Duta Besar Amerika Robert O’Blake. Sebelum ada Kampung Sanitasi, Semanggi masuk kampung terburuk sanitasi, kini urutan 11 terbaik di Solo. Dari aspek ekonomi, dulu konsumsi air bersih, masyarakat membeli dengan ember, Rp300. Hingga warga mengeluarkan uang Rp90.000-Rp100.000, kini cukup Rp60.000, sudah mendapatkan air bersih di rumah masing-masing. *** Sungai Bengawan Solo berwarna kecoklatan. Berjarak sekitar 200 meter dari MCK komunal Kampung Sanitasi Semanggi. Tak ada lagi warga mencuci, ambil air, mandi dan BAB di sungai. Untuk mengelola ini mereka membentuk KSM Dabagsari Makmur. Mereka bertindak melayani pelanggan yang mengalami gangguan. Seluruh operasi, perbaikan, perawatan maupun penagihan iuran oleh KSM. Dwi Anggraheni Hermawati, Behavior Change Communication Spesialist IUWASH bercerita, dari data 2011, tak ada MCK 60%, jikapun memilik septitank tak kedap air, jamban tidak sehat. Tak pernah menguras septitank. IUWASH bersama pemkot survei, akhirnya memilih Semanggi berdasarkan sarana air minum dan sanitasi masih kurang serta penduduk padat. Selain melayani warga RT-5, master meter kelolaan Dabagsari Makmur menambah di RT-3 dan RT-1. “Bahkan banyak warga RT lain berminat dan mengajukan sambungan baru.” KSM, katanya, setiap bulan mengelola Rp3,5 juta dari iuran warga. Dari saldo pembayaran ke PDAM untuk iuran air bersih, sisa saldo jadi kas KSM Rp1 juta perbulan. Jefry Budiman Koordinator IUWASH di Jawa Tengah mengatakan, data Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) RT-5 diperoleh fakta angka warga sakit dampak lingkungan turun drastis. Hampir tak ada warga atau bayi terkena diare atau infeksi saluran pernafasan (ISPA) maupun demam berdarah. Kalaupun ada tak sampai puluhan. Dulu penyakit-penyakit yang kondisi lingkungan tak sehat itu banyak diderita warga. Suratna, Kepala bidang Penataan Ruang dan Prasarana Kota Surakarta mengatakan, IPAL komunal di Kampung Sanitasi cukup baik, karena ada situasi tertentu beberapa masyarakat tak bisa terlayani IPAL kota. “Ada juga beberapa lokasi pendataan kami seperti Semanggi, dulu sanitasi buruk.”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *