Menuju Tanah Karo Bebas Sanitasi Buruk

Keadaan lingkungan, faktor perilaku, pelayanan kesehatan dan genetik adalah variabel yang mendapatkan perhatian dalam menilai kondisi kesehatan masyarakat atau dapat menentukan baik buruknya status derajat kesehatan masyarakat dan buruk atau tidaknya sanitasi. Sanitasi lingkungan adalah status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air bersih dan sebagainya. Sanitasi menciptakan segala sesuatu yang higienis dan kondisi yang menyehatkan. Tujuan sanitasi ini adalah untuk meningkatkan atau mempertahankan suatu tempat atau benda yang sehat sehingga tidak berpengaruh negatif terhadap lingkungan hidup. Maka dari hal tersebut sangat penting untuk menerapkan sanitasi disetiap daerah. Kabupaten Karo terdiri dari 269 Desa/Kelurahan dan terletak di Dataran Tinggi Bukit Barisan dan sebagian besar wilayahnya merupakan dataran tinggi. Secara geografis terletak diantara 250′ – 319′ Lintang Utara dan 9755′- 9838′ Bujur Timur. Dua gunung berapi aktif terletak di wilayah ini sehingga rawan gempa vulkanik dan letusan gunung api. Wilayah Kabupaten Karo berada pada ketinggian 120 — 1400 meter di atas permukaan laut.  Kabupaten Karo terkenal sebagai daerah penghasil berbagai buah-buahan, sayuran dan bunga-bungaan dan mata pencarian penduduk yang terutama adalah usaha pertanian pangan, hasil hortikultura dan perkebunan rakyat. Keadaan hutan cukup luas yaitu mencapai 129.749 Ha atau 60,99 persen dari luas Kabupaten Karo. Secara administrasi, Kabupaten Karo dibagi atas 17 kecamatan Penyebab sanitasi buruk di kabupaten Karo Kondisi lingkungan di kabupaten karo pada beberapa daerah dapat dikatakan menurun dan masih jauh dari kata baik. Menurunnya kualitas lingkungan hidup di Kabupaten Karo dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pertambahan jumlah penduduk yang akibatnya semakin banyak penyebaran penduduk yang membuat dibukanya wilayah baru yang kurang tersedianya sarana dan prasarana sanitasi. Dengan bertambahnya jumlah penduduk dan penyebaran penduduk ke wilayah yang lebih luas juga menyebabkan jumlah timbulan sampah meningkat setiap tahunnya. Faktor lain adalah perilaku hidup masyarakat yang relatif kurang kondusif terhadap program sanitasi atau dapat dikatakan masih minimnya tingkat kesadaran antar masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Sebagai contoh masyarakat lebih suka menggunakan sarana alam seperti sungai dari pada menggunakan sarana yang sudah tersedia. Maka dari itu perlu dilakukan perubahan pada kebiasaan dan prilaku masyarakat. Dampak sanitasi buruk Dari kedua faktor tersebut tentunya dapat mengakibatkan penurunan pada kualitas air permukaan, yang dimana air merupakan sumber utama yang paling penting untuk kebutuhan masyarakat. Seperti yang tercantum pada “buku putih kabupaten karo” menurunnya kualitas air dikarenakan masuknya air limbah, sampah padat dan tinja ke badan air. Hal ini disebabkan karena limbah cair domestik masih dikelola secara individual. Sistem komunal mandi, cuci dan kakus (MCK) telah dilaksanakan dibeberapa tempat melalui program SANIMAS tetapi belum menjangkau seluruh pemukiman padat sehingga perlu dilaksanakan di lokasi lain. Limbah cair yang berasal dari industri, hotel, dan rumah sakit baik yang sudah memiliki fasilitas IPAL apalagi yang belum juga memberi kontribusi bahan pencemar. Hal ini menyebabkan Biologycal Oxygent Demand (BOD) dan Chemical Oxygent Demand (COD) meningkat sedangkan Dissolved Oxygent (DO) menurun; sehingga air permukaan dibeberapa tempat sudah berbau busuk dan berwarna kehitam-hitaman, kandungan mikroorganismen pada badan air tersebut meningkat serta terjadinya pendangkalan sungai. Dari sisi lain  kesulitan mendapatkan area tempat pengelolaan sampah sementara (TPS) mempengaruhi ketersediaan jumlah TPS yang ada di masyarakat. Hal ini memberikan kontribusi kepada masyarakat untuk membuang sampah sembarangan terutama pada badan air, selain karena perilaku masyarakat itu sendiri yang suka membuang sampah seenaknya. Solusi dan Penutup  Hal ini tentu saja harus menjadi perhatian yang serius bagi pemerintahan maupun masyarakat . Untuk menjaga sanitasi adalah faktor yang sangat penting karena dampak yang dihasilkan tidaklah main-main. Dampak yang sangat besar dihasilkan dari sanitasi yang buruk adalah masalah kesehatan masyarakat. Oleh sebab itu sangat dibutuhkan kerjasama pemerintah dan kesadaran masyarakat. Solusi yang dapat diterapkan untuk mewujudkan sanitasi yang baik harus diawali dengan kesadaran kuat dari masyarakat untuk membantu mewujudkan sanitasi yang baik dimulai dari hal-hal yang kecil seperti tidak membuang sampah di sembarang tempat dan memperhatikan kebersihan lingkungan. Dari segi pemerintahan juga dapat lebih diterapkan peraturan dan program yang sudah dibuat untuk lebih dikembangkan terutama pada penambahan tempat pembuangan sampah akhir pada setiap pemukiman. Untuk lebih memperhatikan dan memonitoring setiap perusahaan yang banyak mengeluarkan limbah dapat diatasi secara tuntas.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *