Tantangan Perubahan Iklim, Saatnya Kesehatan Lingkungan Bergerak

Hari ini, Menkes Nila Moeloek memberikan penghargaan kepada 19 bupati/walikota yang berhasil menerapkan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) berkelanjutan serta 3 bupati/walikota yang berinovasi terbaik dalam STBM berkelanjutan. Penghargaan diberikan dalam peringatan Hari Kesehatan Lingkungan Sedunia tahun 2019, di kantor Kemenkes, Jakarta. Peringatan Hari Kesling Sedunia diperingati setiap tanggal 26 September. Tahun ini mengangkat tema Tantangan Perubahan Iklim, Saatnya Kesehatan Lingkungan Bergerak Secara Global dengan sub tema Aksi Adaptasi Perubahan Iklim Dalam Upaya Mewujudkan Lingkungan Sehat. Pada kesempatan tersebut, selain memberikan penghargaan kepada para bupati/walikota, Menkes Nila juga meluncurkan produk hukum dan pedoman terkait kesehatan lingkungan, yaitu Rencana Aksi Nasional Perubahan Iklim Bidang Kesehatan; Aplikasi Pemetaan Kerentanan Perubahan Iklim Bidang Kesehatan; Pedoman Desa Sehat Iklim (Desa Desi); Kurikulum dan Modul Pelatihan untuk Pelatih Adaptasi Perubahan Iklim Bidang Kesehatan (APIK); Aplikasi Pemetaan Kerentanan Risiko Perubahan Iklim; Dalam sambutannya, Menkes Nila menyatakan bahwa kesehatan lingkungan memegang peran penting dalam penyebaran agen penyebab penyakit, baik yang diakibatkan oleh agen biologi, kimia, maupun fisika. Oleh sebab itu, penyediaan lingkungan yang sehat bagi penduduk dapat mendukung visi Pemerintah dalam menciptakan SDM Unggul. Hal ini senada dengan teori Hendrik L. Blum, yang menyatakan bahwa faktor lingkungan memiliki peran 40% dalam pencapaian status kesehatan masyarakat, diikuti dengan 30% faktor perilaku, 20% faktor pelayanan kesehatan, dan 10% faktor hereditas (keturunan). “Peringatan Hari Kesehatan Lingkungan Sedunia merupakan upaya mengingatkan kita semua agar menyadari peran kesehatan lingkungan yang cukup besar dalam mewujudkan lingkungan yang sehat sebagai salah satu faktor untuk mewujudkan masyarakat yang sehat,” kata Menkes. Kondisi iklim global, penipisan ozon, efek polusi zat-zat toksik terhadap ekosistem global, mengakibatkan limbah semakin banyak. Hal ini merupakan akibat dari perubahan iklim termasuk degradasi lingkungan perairan dan laut serta peningkatan populasi manusia. Perubahan iklim merupakan fenomena yang mulai dirasakan oleh masyarakat global, termasuk Indonesia. Menurut WHO, perubahan iklim mempengaruhi determinan sosial dan kesehatan. Suhu yang semakin meningkat menyebabkan semakin meluasnya tempat perindukan vektor dan hewan pembawa penyakit, yang pada akhirnya semakin meluasnya masyarakat yang rentan terhadap penyakit akibat vektor dan hewan pembawa penyakit. Dalam beberapa dekade terakhir, frekuensi kejadian penyakit yang dipicu perubahan iklim semakin tinggi, antara lain Demam Berdarah Dengue (DBD). “Oleh sebab itu, Indonesia harus berperan aktif dalam mitigasi agar dapat mengendalikan perubahan iklim serta adaptasi agar dapat tetap hidup sehat dalam dinamika iklim yang terus berubah dengan mewujudkan desa ramah iklim atau desa sehat iklim. Untuk mendukung pengembangannya, perlu ada gambaran wilayah yang rentan terhadap perubahan iklim,” tandas Menkes Nila. Dalam mendukung mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, Kementerian Kesehatan mengembangkan upaya promotif dan preventif melalui kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Program ini diselenggarakan dengan menerapkan “5 Pilar STBM”, yaitu; 1) Stop Buang Air Besar Sembarangan; 2) Cuci Tangan pakai Sabun; 3) Pengelolaan Air Minum dan Makanan; 4) Pengelolaan Sampah; 5) Pengelolaan Limbah Cair. Secara khusus, pengelolaan sampah rumah tangga menjadi perhatian di dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Kesadaran masyarakat dalam pemilahan sampah di tingkat rumah tangga agar menjadi budaya positif dan berkontribusi di dalam pembanggunan kesehatan lingkungan. Sementara ini, Dirjen Kesehatan Masyarakat Kirana Pritasari saat membuka sesi seminar sebelum pemberian penghargaan oleh Menkes, menegaskan bahwa perubahan iklim akan mengakibatkan penambahan sekitar 250.000 kematian per tahun antara tahun 2030 dan 2050. ”Penambahan jumlah kematian ini terutama disebabkan oleh malaria, diare, pajanan suhu panas, dan kekurangan gizi. Sedangkan kerugian ekonomi yang disebabkan perubahan iklim terhadap kesehatan diperkirakan U$ 2-4 milyar/tahun pada tahun 2030,” ungkap Dirjen Kirana. Ditambahkan Kirana, kondisi tersebut akan semakin buruk, terutama jika terjadi pada populasi rentan seperti anak-anak dan orang tua, dan pada wilayah dengan infrastruktur kesehatan yang kurang memadai. Demikian pula dengan bencana alam akibat perubahan iklim, menurunnya sanitasi lingkungan, dan lain sebagainya, yang sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat. ”Secara global sampah menjadi isu yang sangat serius karena berdampak terhadap perubahan iklim,” tegas Dirjen Kirana. Untuk itu diperlukan upaya kesehatan lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat, baik fisik, kimia, biologi, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Sejarah Hari Kesehatan Lingkungan Sedunia Hari Kesehatan Lingkungan Sedunia (HKLD) dideklarasikan pertama kali pada tanggal 26 September 2011 di dalam pertemuan International Federation of Environmental Health (IFEH) di Denpasar, Bali, Indonesia. Pertemuan ini dihadiri 43 organisasi kesehatan lingkungan di 43 negara. Indonesia diwakili oleh organisasi Environmental Health Specialist Association (EHSA). Selanjutnya, setiap tanggal 29 September diadakan perayaan Hari Kesehatan Lingkungan Sedunia sebagai pengakuan atas kerja keras dan dedikasi para pelaku yang membuat perbedaan, dan promosi pendidikan kesehatan lingkungan. Kesehatan lingkungan adalah topik yang benar-benar global. Setiap tindakan yang dilakukan oleh setiap orang berdampak pada kesehatan lingkungan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *