Jelang Musim Hujan, DLH Buleleng Bersihkan Drainase di Desa Sambangan

Guna mengantisipasi datangnya musim hujan dan ancaman bencana banjir, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Buleleng semakin menggencarkan kebersihan lingkungan di Buleleng. Kali ini, DLH Buleleng menggelar bersih-bersih disekitaran wilayah Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada. Hal tersebut dikatakan Kepala DLH Kabupaten Buleleng, Putu Ariadi Pribadi, S.STP., MAP saat dihubungi melalui saluran telepon, pada Jumat 22 Nopember 2019 usai melaksanakan giat bersih-bersih. Pembersihan di wilayah Sambangan ini dilakukan karena wilayah tersebut selama ini termaasuk wilayah rawan banjir. Dalam kesempatan tersebut, dirinya mengatakan lokasi pembersihan dilakukan dimulai dari SDN 3 Sambangan hinnga perbatasan Desa Sambangan dengan Desa Baktisraga, dengan melibatkan Pemerintah Kecamatan Sukasada yang dipimpin langsung oleh Camat Sukasada, I Made Dwi Adnyana, S.STP, masyarakat Desa Sambangan, serta siswa-siswi dari SMKN 2 Singaraja, SMAN 2 Singaraja dan SMKN 1 Sukasada. “Hal ini juga dilakukan untuk menghindari terjadinya banjir mengingat musim hujan akan segera tiba” ujar Ariadi Pribadi. Area yang dibersihkan, masih kata Ariadi Pribadi, lebih menyasar sampah-sampah yang ada di saluran drainase disepanjang Jalan Srikandi, Banjar Dinas Babakan, Desa Sambangan, yang bersinergi dengan petugas drainase dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Buleleng. Sampah yang dihasilkan dari giat bersih-bersih ini kurang lebih sebesar 8 m3 yang masih tercampur antara sampah organik dan anorganik dan selanjutnya nanti akan dipilah kembali. DLH Buleleng pada kegiatan ini mengerahkan beberapa kendaraan Unit Sapu Bersih (USB) untuk mengangkut sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). “Dua unit USB penuh terisi sampah, saat ini selokan disepanjang jalan tersebut telah terbebas dari sampah,” Lebih lanjut, dirinya mengatakan, masalah sampah di lingkungan masyarakat sangat membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Kesadaran masyarakat terkait dengan sampah agar lebih ditingkatkan lagi, mengingat dampak dari tersumbatnya saluran air atau drainase tersebut sangat membahayakan dan dapat menyebabkan banjir, sehingga lingkungan akan tercemar dan tentu akan menimbulkan bibit penyakit. “Mari kita mulai peduli terhadap lingkungan, dengan tidak lagi membuang sampah ke aliran sungai, selokan atau sekitarnya,” tutup Ariadi Pribadi.

Kalak BPBD Dampingi Dandim Tinjau Titik Rawan Banjir

bekasikab.go.id
MITIGASI: Kalak BPBD Kabupaten Bekasi, Henri Lincoln bersama Dandim 0509/Kabupaten Bekasi Letkol Kav Tofan Tri Anggoro, meninjau titik rawan banjir di Desa Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan pada Kamis (04/02/2020). FOTO: IST TAMBUN SELATAN – Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, Henri Lincoln bersama Komandan Kodim (Dandim ) 0509/Kabupaten Bekasi Letkol Kav Tofan Tri Anggoro, meninjau titik rawan banjir yaitu di Desa Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan serta Desa Sukadanau, Kecamatan Cikarang Barat, pada Kamis (04/02/2020). Disampaikan Henri, kerja sama Pemerintah Kabupaten Bekasi dengan Kodim 0509/ Kabupaten Bekasi merupakan bagian komunikasi Forkopimda Kabupaten Bekasi dalam meminimalisir permasalahan di Kabupaten Bekasi seperti banjir atau bencana lainnya. “Kita bersama-sama menginventarisir atau mitigasi permalasahan banjir dengan terjun bersama ke lapangan seperti asal sampah, penanganannya, kemudian juga soal sendimentasi. Bukan memindahkan masalah melainkan mencari solusi atau menyelesaikan masalah,”ujarnya Ia menghimbau kepada warga untuk tetap waspada di musim penghujan seperti sekarang ini serta tetap disiplin tidak membuang sampah sembarangan terutama dibantaran kali yang menyebabkan pendangkalan dan membuat kali meluap. “Saya imbau kepada warga jangan membuang sampah ke sungai karena akan menumpuk dialiran kali dan menyebabkan banjir,” tambah pria yang juga mantan Sekretaris Disbudpora Kabupaten Bekasi ini saat meninjau di Desa Lambangsari. Selain itu ia juga mengajak kepada warga untuk menghidupkan budaya gotong royong seperti jumat bersih, goloran kali atau saluran air agar aliran air tidak tersumbat dan menimbulkan banjir Sementara itu saat tinjauannya di Kali Cikarang, Desa Sukadanau ia menyampaikan kepada warga atau pihak institusi manapun untuk tidak merusak dan mempersempit sungai. Bahkan ia mengajak kepada warga untuk menanam pohon dan menjaga konservasi alam yang sudah terbentuk. “Jaga alam dan alam pun akan menjaga kita, jangan mempersempit aliran kali apalagi merusak pepohonannya , ini penting agar alam tetap terjaga ”terangnya. Karena bila tidak di jaga dengan baik akan timbulnya bencana yang tidak di inginkan, penyakit menular dan sebagainya akan menajadi momok yang menakutkan bagi masyarakat, sanitasi lingkungan yang baik adalah kunci keberhasilan tujuan tersebut. Sumber : http://bekasikab.go.id/berita/3427/kalak-bpbd-dampingi–dandim-tinjau-titik-rawan-banjir-

Pengungsi Banjir Bandang Garut Mulai Terserang Penyakit

Warga memilih pakaian sumbangan di posko pengungsi korban banjir bandang, Desa Haurpanggung, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat, 22 September 2016.  TEMPO/Prima Mulia
Warga memilih pakaian sumbangan di posko pengungsi korban banjir bandang, Desa Haurpanggung, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat, 22 September 2016. TEMPO/Prima Mulia
TEMPO.COGarut – Sejumlah pengungsi korban banjir bandang di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mulai terserang penyakit. Gangguan kesehatan yang paling banyak terjadi yakni infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), saluran pencernaan, dan penyakit kulit. “Sekarang ini hari-hari tumbuhnya penyakit, pascabanjir inilah yang bahaya,” ujar Wakil Bupati Garut Helmi Budiman, Sabtu, 24 September 2016. Menurut dia, salah satu sumber tumbuhnya penyakit ini dari bau bangkai binatang yang mati terbawa banjir bandang. Selain itu, sanitasi lingkungan yang kurang memadai di tempat pengungsian. Karena itu pemerintah mendirikan 24 posko kesehatan yang disebar di sejumlah lokasi bencana untuk mencegah timbulnya wabah penyakit. Pos kesehatan itu diisi tenaga medis dari para relawan seperti dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Ikatan Dokter Indonesia, dan Persatuan Perawat. “Kami juga menggratiskan korban banjir untuk berobat di semua puskesmas, klinik, dan rumah sakit yang ada di Garut,” ujar Helmi. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut Tenni Sewara Rifai kebutuhan yang paling mendesak saat ini yakni sarung tangan lateks. Sarung tangan itu sangat dibutuhkan dalam kegiatan pencarian korban yang masih hilang dan kegiatan medis lainnya. “Persediaan di kami dan BPBD juga kosong,” ujarnya.https://15b45e42a1de8646ee24be3b6126ae44.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-38/html/container.html
Untuk kebutuhan obat-obatan, Tenni mengaku masih dapat ditanggulangi dengan persediaan yang ada. Kebutuhan obat juga mendapatkan suplai dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Selain itu, Dinas Kesehatan menerjunkan tenaga medis di enam titik daerah rawan bencana. Presiden Partai Keadilan Sejahtera, Sohibul Iman, mengklaim akan mengerahkan kadernya untuk membantu penanganan bencana banjir bandang di Garut. Bantuan yang fokus menjadi perhatian yakni penanganan obyek vital seperti rumah sakit dan kajian kerusakan lingkungan. “Kami akan mendorong kader yang ada di parlemen untuk secepatnya membuat program pascabencana berikut alokasi dananya, salah satunya di komisi IX DPR RI,” ujarnya. Hingga berita ini ditulis jumlah korban tewas bertambah menjadi 33 orang. Sedangkan korban yang masih dalam pencarian sebanyak 20 orang. Selain itu, tim gabungan juga masih melakukan pembersihan lumpuh di daerah bencana seperti di RSUD, Cimacan, dan Asrama Lapang Paris. Sumber : https://nasional.tempo.co/read/807090/pengungsi-banjir-bandang-garut-mulai-terserang-penyakit/full&view=ok

Desa Ini Hanya Butuh Air Bersih Saat Musim Hujan

SIAP DIBANGUN: Guna memenuhi kebutuhan air bersih di Desa Gunungsari, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon akan segera dibangun Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). FOTO. DENY HAMDANI/RADAR CIREBON
SIAP DIBANGUN: Guna memenuhi kebutuhan air bersih di Desa Gunungsari, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon akan segera dibangun Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). FOTO. DENY HAMDANI/RADAR CIREBON
Radarcirebon.com, CIRTIM – Warga Desa Gunungsari, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon rawan banjir. Kondisi ini membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih di musim hujan. Air sumur warga sangat keruh tercampur lumpur. Oleh sebab itu, adanya pembangunan Pamsimas di Desa Gunungsari sangat membantu warga untuk mendapatkan air bersih. Penjabat Kuwu Desa Gunungsari, Muhammad Arpik mengatakan Desa Gunungsari sangat membutuhkan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). “Warga kami sangat membutuhkan Pamsimas untuk kebutuhan air bersih mereka. Sehingga program yang akan dibangun ini sangat membantu warga dalam memperoleh air bersih,” ujarnya. Arpik mengatakan, warganya saat musim kemarau justru tidak mengalami kesulitan air bersih. Justru menurut Arpik warga mengalami kesulitan air bersih pada musim hujan. “Di sinikan langganan banjir, nah kalau banjir ataupun setelah banjir itu air sumur warga berwarna keruh sehingga tidak layak digunakan,” ujarnya. Arpik mengungkapkan warga Desa Gunungsari rata-rata melakukan pengeboran sumur. Mayoritas warga melakukan pengeboran tidak begitu dalam. Sehingga ketika banjir, air sumur bercampur dengan air banjir berikut dengan lumpur. Kondisi ini membuat warga tidak lagi bisa mendapatkan air bersih. Maka dari itu, dengan adanya bantuan pembangunan Pamsimas dari pemerintah, Arpik menyebut hal itu bisa membantu masyarakat. “Alhamdulillah ini ada bantuan pamsimas sehingga tidak terlalu lama lagi pamsimas ini yang sedang dibangun bisa selesai dan bisa pergunakan oleh warga Desa Gunungsari,” ujarnya. Sumber : https://cirtim.radarcirebon.com/desa-ini-hanya-butuh-air-bersih-saat-musim-hujan/

Penanggulangan Bencana

A. Upaya Menanggulangi Banjir

Menjaga lingukungan sekitar Yang utama adalah menjaga lingkungan sungai atau selokan, sungai sebaiknya di pelihara dengan baik. Jangan membuang sampah ke selokan. Sungai atau selokan jangan di jadikan tempat pembuangan sampah Hindari membuat rumah di pinggiran sungai Saat ini semakin banyak warga yang membangun rumah di pinggir sungai, ada baiknya pinggiran sungai jangan di jadikan rumah penduduk karena menyebabkan banjir dan tatanan masyarakat tidak teratur. Melaksanakan program tebang pilih dan reboisasi Pohon yang telah ditebang sebaiknya ada penggantinya. Menebang pohon yang telah berkayu kemudian di tanam kembali tunas pohon yang baru. Hal ini ditujukan untuk regenerasi hutan dengan tujuan hutan tidak menjadi gundul. Buanglah sampah pada tempatnya Sering kali masyarakat indonesia membuang sampah sembarangan terutama membuang sampah ke sungai, tentu hal ini akan memebrikan dampak buruk di kemudian hari. Karena sampah yang menumpuk bisa menyebabkan terjadinya banjir saat curah hujan sedang tinggi. Pengelolahan sampah yang tepat dan bantuan alat sanitasi bisa membantu mencegah banjir. Rajin Membersihkan Saluran Air Perbaikan dan pembersihan saluran air tentu harus ada. Di wilayah tertentu bisa diadakan secara gotong royong. Penjagaan ini harus dilakukan secara terus menerus dengan waktu berkala. Hal ini bertujuan agar terjadi hujan deras, air tidak akan tersumbat dan mampu mencegah terjadinya banjir.

B. Upaya Pengurangan Bencana Aingin puting Beliung

  • Memiliki struktur bangunan yang dapat memenuhi syarat teknis sehingga mampu untuk bertahan terhadap angin terutama angin besar
  • Di daerah rawan angin badai, perlu adanya standar bangunan untuk bisa memperhitungkan beban angin. Sehingga struktur bangun dapat bisa menahan angin.
  • Melakukan penghijauan di bagian atas arah angin untuk meredam gaya angin.
  • Pengamanan/perkuatan bagian-bagian yang mudah diterbangkan angin yang dapat membahayakan diri atau orang lain disekitarnya.
  • Kesiapsiagaan dalam menghadapi angin topan, mengetahui bagaimana cara penyelamatan diri
  • Pengamanan barang-barang disekitar rumah agar terikat/dibangun secara kuat sehingga tidak diterbangkan angin
  • Untuk para nelayan, supaya menambatkan atau mengikat kuat kapal-kapalnya.

C. Upaya Penanggulangan Bencana Tanah Longsor

  • Mengenali daerah yang rawan terjadinya tanah longsor. Terutama di sekitar lereng yang curam.
  • Jangan Bangun Pemukiman atau fasilitas di daerah yang rawan bencana terutama bencana tanah longsor
  • Menjaga Drainase Fungsi drainase adalah untuk menjauhkan air dari lereng, menghidari air meresap ke dalam lereng atau menguras air ke dalam lereng ke luar lereng. Jadi drainase harus dijaga agar jangan sampai tersumbat atau meresapkan air ke dalam tanah
  • Membuat terasering dengan sistem drainase yang tepat. drainase pada teras – teras dijaga jangan sampai menjadi jalan meresapkan air ke dalam tanah
  • Penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam dan jarak tanam yang tepat. Hal ini untuk bisa menahan air sehingga bencana tanah longsor bisa di minimalisir.
  • Jika ingin mendirikan bangunan, gunakan fondasi yang kuat. sehingga akan kokoh saat terjadi bencana
  • Penutupan rekahan di atas lereng untuk mencegah air masuk secara cepat kedalam tanah.
  • Pembuatan tanggul penahan untuk runtuhan batuan (rock fall).

D. Upaya Penanggulangan Kekeringan

Kekeringan merupakan salah satu bencana alam yang keberadaannya sama sekali tidak diinginkan. Sepeti halnya jenis bancana alam lainnya yang dapat diupayakan penanggulangannya, demikian halnya dengan kekeringan. Beberapa upaya yang dapat kita lakukan untuk menanggulangi kekeringan ini antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Menanam banyak pohon
Salah satu cara untuk dapat menanggulangi kekeringan adalah banyak menanam pepohonan. Seperti yang kita tahu bahwa salah satu fungsi pohon adalah mnyerap dan kemudian menyimpan air di dalam akarnya. Suatu saat air yang tersimpan di bawah akar pohon dan disebut dengan air tanah  ini akan dapat digunakan di kemudian hari ketika musim kemarau tiba. seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dartah yang mempunyai banyak pohon akan lebih banyak mempunyai air daripada daerah yang kurang pohon.
  1. Membuat bendungan
Solusi kedua untuk menanggulangi kekeringan adalah dengan membuat bendungan. Bendungan merupakan salah satu cara untuk membuat air sungai tersimpan (terbendung) sehingga suatu saat dapat digunakan ketika masuarakat kekurangan air. Bendungan juga digunakan untuk mengairi sawah.
  1. Menggunakan air dengan sewajarnya
Dan salah satu solusi yang dapat kita lakukan dan dimulai dari diri sendiri adalah menghemat penggunaan air. Air yang merupakan sumber daya alam harus kita hemat dan penggunaannya hanya sewajarnya saja, jangan berlebihan.

E. Upaya Penanggulangan Abrasi

Membangun Pemecah Gelombang Membuat pemecah gelombang bisa menjadi salah satu cara untuk mencegah abrasi pantai. Cara ini dimaksudkan agar kekuatan gelombang yang tiba pada garis pantai tidak terlalu besar sehingga tidak berpotensi mengikis padatan yang berada dititik tersebut. Beberapa wilayah di Indonesia sudah banyak yang menerapkan pemecah gelombang sebagai penangkal abrasi pantai Hutan Mangrove/Bakau Cara yang paling manjur untuk mengatasi abrasi adalah dengan menanam mangrove. Langkah penanggulangan berbasis konservasi ini idealnya disandingkan dengan opsi pemecah gelombang. Manfaat hutan bakau dalam melindungi garis pantai sebenarnya sudah banyak diketahui pihak terkait. Namun kesadaran untuk membuat ini masih minim. Mangrove memiliki banyak manfaat seperti :
  •          Menjaga stabilitas garis pantai.
  •          Mengurangi akibat bencana alama tsunami.
  •          Membantu pengendapan lumpur, dengan demikian kualitas air lautan jauh lebih terjaga.
  •          Membantu menahan juga menyerap tiupan angin laut yang cukup kencang.
  •          Merupakan sumber plasma nutfah.
  •          Membantu menjaga keseimbangan alam.
  •          Membantu mengurangi polusi baik di udara juga di air.
  •          Sebagai salah satu sumber oksigen bagi makhluk hidup.
  •          Hutan mangrove juga menjadi habitat alami beragai spesies seperti kepiting, burung, beberapa jenis ikan dan lain-lain.
Sumber : http://bpbd.pamekasankab.go.id/penanggulangan/