4 Perusahaan Rintisan Beri Bantuan 1.000 Paket Esensial dan Sanitasi demi Atasi Covid-19 di Bogor

Program “Bersama Lawan Covid #PastiBisa dari 4 perusahaan rintisan.
Program “Bersama Lawan Covid #PastiBisa dari 4 perusahaan rintisan.
Liputan6.com, Jakarta Hampir semua sektor terkena imbas dari pandemi Covid-19 ini, dengan banyak karyawan kehilangan pekerjaan dan tidak sedikit pelaku usaha yang gulung tikar. Kabar baiknya, situasi ini mendorong berbagai lapisan masyarakat untuk gotong royong dan bangkit dari situasi ini. Seperti yang dilakukan 4 perusahaan yakni Meyer Food, HappyFresh, Ceva Animal Health Indonesia, dan PT AEON Indonesia. Dalam Program “Bersama Lawan Covid #PastiBisa,” keempat perusahaan ini berkolaborasi untuk membantu 1.000 warga yang terdampak Covid-19 di Kota Bogor, diinisiasi Meyer Food. Bantuan tersebut berupa 1.000 paket yang berisi ayam potong, telur, madu, susu bubuk, hand sanitizer, disinfectan soap, face mask, dan mie instan. 1.000 paket esensial dan sanitasi diterima secara simbolis oleh Wakil Walikota Dedie Rachim. Dedie mengungkapkan kolaborasi keempat perusahaan yang diinisiasi oleh Meyer Food ini sangat diapresiasi. “Kami berharap gerakan ini bisa terus dilaksanakan dan semakin banyakwarga khususnya lapisan menengah ke bawah dan terdampak Covid yang terbantu,” jelasnya.
Program “Bersama Lawan Covid #PastiBisa dari 4 perusahaan rintisan.
Program “Bersama Lawan Covid #PastiBisa dari 4 perusahaan rintisan.
Athalia Permatasari, Co-Founder & COO Meyer Food mengatakan, pihaknya percaya masih banyak dari masyarakat yang bahkan lebih takut jika kelaparan dibandingkan dengan Coviditu sendiri. “Oleh karena itu, kami menggalang Donasi 1000 paket sembako dan sanitasi kepada 1.000 KK yang terdampak Covid di Bogor. Hal ini tidak akan mengubah hidup mereka, tapipaling tidak akan menyelamatkan hari-hari mereka,” jelasnya. Menurut Co-Founder & CTO HappyFresh, Fajar Budiprasetyo kegiatan seperti ini telah menjadi bagian dari misi HappyFresh yang ingin melayani masyarakat Indonesia untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari. “Khususnya di era pandemi COVID-19 ini, tak hanya kebutuhan panganyang layak dan berkualitas yang perlu diperhatikan, tetapi juga memastikan pendistribusian yang mengutamakan protokol kesehatan. Kami berharap bantuan ini setidaknya dapat mengembalikan senyum dan semangat masyarakat untuk terus berjuang menghadapi pandemiini bersama-sam,a” imbuh Fajar. Hal senada juga disampaikan General Manager Marketing PT AEON Indonesia Demak Tambunan, dan Marketing Manager Ceva Animal Health Indonesia,Adhysta Prahaswari. Demak menyampaikan pandemi COVID-19 merupakan stiuasi yang sangat sulit untuk setiap orang. “kami senang menjadi bagian dari program kolaborasi ini dan berharap bisa bermanfaat untukwarga yang kurang mampu serta terdampak COVID-19,” jelas dia. Adhysta mengatakan bahwa sebagai perusahan kesehatan hewan yang turut berkontribusi menjaga keamanan dan kesehatan pangan (ayam dan telur) di Indonesia, program kolaborasi antar perusahaan ini menunjukan bukti semangat kebersamaan kami untuk saling berbagi dan peduli #wesharewecare.
Program “Bersama Lawan Covid #PastiBisa dari 4 perusahaan rintisan.
Program “Bersama Lawan Covid #PastiBisa dari 4 perusahaan rintisan.
Salah seorang penerima bantuan Siti Dari Bogor Timur mengaku sangat berterima kasih atas bantuan itu. “Satu keluarga saya terpapar Covid, terlebih saya juga sudah kehilangan pekerjaan semenjak tahun lalu, bantuan ini sangat berarti,” ungkapnya. Yanti salah seorang warga dari Bogor Barat juga bersyukur bisa memperoleh bantuan ini karena selama pandemi ia juga kehilangan pekerjaan dan saat ini bahkan terkena Covid dan sedang isolasi mandiri, sehingga bantuan ini bermanfaat sekali. Dia berharap program ini bisa berkelanjutan dan juga menggerakkan orang lain dan berbagai organisasi lainnya untuk melakukan hal yang sama. Sumber : https://www.liputan6.com/on-off/read/4624715/4-perusahaan-rintisan-beri-bantuan-1000-paket-esensial-dan-sanitasi-demi-atasi-covid-19-di-bogor

Tujuan Air Bersih dan Sanitasi Layak dalam Poin ke-6 SDGs: Bagaimana dengan Kondisi di Indonesia?

Jaga kesehatan selalu ya! Jangan lupa makan dan minum yang banyak. Btw hari ini sahabat HeyLaw udah minum berapa gelas nih dari sejak bangun tidur? Buat yang suka minum, pasti udah bolak-balik ngambil air ya, hehehe. Nggak bisa dipungkiri kalau air tuh emang penting banget. Apalagi kalau cuaca panas begini. Nah, udah bisa ketebak kan, kali ini penulis mau bahas tentang apa? Yups bener banget! Kali ini penulis pengen bahas tentang air. Siapa sih yang nggak butuh air? Semua makhluk di bumi ini, dari manusia, hewan, tumbuhan, bahkan bakteri juga membutuhkan air. Air tersebut digunakan untuk berbagai macam kebutuhan. Bagi manusia air sangat penting untuk memenuhi cairan di dalam tubuh. Selain itu air juga digunakan untuk mandi, mencuci, memasak, dan lain sebagainya. Air juga berguna bagi tumbuhan untuk proses fotosintesis. Hewan juga memerlukan air untuk diminum. Bagi hewan yang hidup di perairan, air sangat menentukan kehidupan mereka. Namun ketersediaan air di seluruh dunia ternyata belum tercukupi. Beberapa negara, khususnya di Benua Afrika sering dilanda kekeringan. Fenomena ini mendorong negara-negara di dunia dalam Sidang Umum PBB memutuskan untuk memasukkan tujuan Air Bersih dan Sanitasi ke dalam program SDGs.  Nah, sebelumnya penulis sudah pernah mengulas mengenai pengertian SDGs dan Pendidikan Bermutu yang bisa diakses di sini. Kali ini penulis akan mengulas Tujuan ke-6 SDGs  2030, yaitu Air Bersih dan Sanitasi Layak. Target dari poin ini sendiri terdiri dari:
  1. Pada tahun 2030, mencapai akses universal dan adil terhadap air minum yang aman dan terjangkau untuk semua
  2. Pada tahun 2030, mencapai akses terhadap sanitasi dan kebersihan yang layak dan adil untuk semua dan mengakhiri buang air di tempat terbuka, dengan memberikan perhatian khusus pada kebutuhan perempuan dan anak perempuan serta mereka yang berada dalam situasi rentan
  3. Pada tahun 2030, memperbaiki kualitas air dengan mengurangi polusi, menghapuskan pembuangan limbah dan meminimalisir pembuangan bahan kimia dan materi berbahaya, mengurangi separuh dari proporsi air limbah yang tidak diolah dan secara substansial meningkatkan daur ulang dan penggunaan ulang yang aman secara global
  4. Pada tahun 2030, secara substantif meningkatkan penggunaan air secara efisien di semua sektor dan memastikan pengambilan dan suplai air bersih yang berkelanjutan untuk mengatasi kelangkaan air dan secara substansial mengurangi jumlah orang yang mengalami kelangkaan air
  5. Pada tahun 2030, mengimplementasikan pengelolaan sumber air yang terintegrasi pada setiap level, termasuk melalui kerjasama antar batas selayaknya
  6. Pada tahun 2020, melindungi dan memperbaiki ekosistem terkait air, termasuk pegunungan, hutan, rawa, sungai, resapan air dan danau
Ketersediaan Air di Dunia Meningkatnya jumlah penduduk di dunia berpengaruh besar terhadap ketersediaan air. Selain peningkatan jumlah penduduk, pemanasan global juga dapat mengakibatkan kekeringan. Hal tersebut dikarenakan apabila lapisan es yang mencair mampu menutupi 10% lapisan bumi, maka dapat membahayakan kehidupan makhluk hidup. Pasalnya, air es tersebut apabila masuk ke dalam air laut, maka dapat menurunkan kadar garam yang ada di laut. Akhirnya fenomena ini akan menyebabkan berbagai macam dampak, salah satunya kekeringan. Badan PBB untuk air menyebutkan bahwa hasil riset beberapa pakar menyebutkan bahwa 780 juta manusia di dunia tidak memiliki akses terhadap air bersih. Sedangkan 2,5 miliar manusia di dunia tidak mendapatkan akses terhadap sanitasi yang layak. Kondisi iklim sangat menentukan ketersediaan air di dunia. Dikutip melalui Kompas.com, perubahan iklim salah satunya dapat digambarkan ketika temperatur udara meningkat karena pemanasan global, maka penguapan dan evaporasi semakin cepat terjadi dan berakibat air tanah semakin berkurang. Selain temperatur udara, curah hujan juga sangat berpengaruh terhadap ketersediaan air. Apabila curah hujan tinggi, maka ketersediaan air memadai, namun apabila curah hujan rendah, maka ketersediaan air tidak mampu memadai kebutuhan masyarakat suatu negara. Baru-baru ini, dikabarkan telah terjadi kekeringan di Iran. Dikutip melalui DW.com, Kepala Layanan Meteorologi Iran menyatakan bahwa dari bulan Oktober 2020 hingga pertengahan Juni 2021 merupakan masa terkering selama 53 tahun terakhir.  Kekeringan di Iran ini disebabkan oleh peningkatan suhu dan penurunan curah hujan. Selain di Iran, di benua Asia juga terjadi kelangkaan air, yaitu di India. Sebelum adanya pandemi Covid-19, 1000 juta penduduk miskin di India sudah terbiasa mengalami kelangkaan air. Sanitasi dan Air Bersih di Indonesia Beberapa gambaran kelangkaan air di negara lain telah digambarkan oleh penulis di atas. Lalu bagaimana di Indonesia? Berdasarkan data dari Bappenas tahun 2018 yang diperoleh melalui laman itb.ac.id, akses air minum layak di Indonesia sebesar 87,75% dengan 6,8% akses air minum aman. Pemasok air bersih utama di Indonesia dihasilkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dengan kapasitas produksi sebesar 153.881 liter/detik, yang mencakup 19%-20% kebutuhan dasar Indonesia. Namun walaupun pasokan air yang cukup di Indonesia masih memadai, Indonesia masih mengalami pencemaran air, utamanya di sungai-sungai. Sebesar 52% sungai sudah tercemar berat. Sebanyak 10 lokasi di Jakarta, air telah mengalami pencemaran. Hal itu ditandai dengan semakin gelap warna air yang ada di 10 lokasi tersebut. Sejak adanya pandemi Covid-19, konsumsi air di Indonesia semakin meningkat. Selain itu, pendanaan di sektor perairan juga mengalami kontraksi sebagai akibat dari dipangkasnya anggaran APBN dalam rangka percepatan penanganan Covid-19. Berdasarkan ulasan tersebut, maka dapat disimpulkan untuk saat ini ketersediaan air di Indonesia masih memadai, namun kualitas air yang ada di Indonesia membutuhkan perhatian khusus, supaya pasokan air di Indonesia terjamin kebersihannya. Diperlukan peran dari berbagai pihak dalam mengatasi permasalahan ini. Salah satunya kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, agar air yang kita miliki tidak tercemar. Jangan sampai Indonesia yang memiliki label sebagai negara maritim kekurangan ketersediaan air bersih. Sumber : https://heylawedu.id/blog/tujuan-air-bersih-dan-sanitasi-layak-dalam-poin-ke-6-sdgs-bagaimana-dengan-kondisi-di-indonesia

Sanitasi Buruk, Warga India Lebih Kebal dari Covid-19 Parah

 Petugas kesehatan India yang mengenakan alat pelindung diri tiba untuk mengambil bagian dalam kamp pemeriksaan di perkampungan kumuh di Mumbai, India, Rabu, 17 Juni 2020.
Petugas kesehatan India yang mengenakan alat pelindung diri tiba untuk mengambil bagian dalam kamp pemeriksaan di perkampungan kumuh di Mumbai, India, Rabu, 17 Juni 2020.Foto: AP/Rafiq MaqboolJumlah kematian warga India termasuk kecil di tengah banyaknya kasus Covid-19. REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI — Buruknya higiene, minimnya akses terhadap air minum bersih, dan jeleknya sanitasi warga India selama bertahun-tahun kemungkinan berperan dalam menghindarkan mereka dari mengidap Covid-19 yang parah. Mengapa bisa begitu? Menyumbang sekitar seperenam dari total kasus Covid-19 di dunia, India berada di posisi kedua negara yang paling terdampak pandemi. Namun, angka kematian di negara itu masih salah satu yang terendah di dunia, yakni kurang dari dua persen. Menurut sebuah penelitian belum lama ini, orang yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah mungkin lebih kebal terhadap Covid-19 dan infeksi lain karena mereka terpapar patogen penyebab penyakit sejak lahir, dilansir Times Now News, Jumat (6/11). Studi ini diterbitkan sebagai makalah yang masih harus ditinjau sejawat. Para ilmuwan dari National Centre for Cell Sciences (NCSS), Pune, dan Chennai Mathematical Institute, India melihat data yang tersedia di domain publik dari 106 negara.  Mereka membandingkan statistik tersebut berdasarkan 24 parameter yang meliputi kepadatan penduduk, demografi, dan kualitas sanitasi. Bilik Sanitasi di Argentina. “Per juta jumlah penduduk (kematian) tampaknya tinggi di negara-negara yang lebih kaya dan memiliki PDB tinggi,” kata Shekhar Mande, mantan direktur NCSS yang merupakan salah satu penulis makalah tersebut. Sebaliknya, menurut Mande, negara-negara dengan PDB rendah, lebih sedikit jumlah orang yang meninggal akibat penyakit. Studi independen lain yang menganalisis data dari 122 negara menemukan bahwa paparan mikroba yang tinggi mungkin dapat menyebabkan efek perlindungan terhadap Covid-19 melalui rantai respons imun yang kompleks. Studi tersebut dilakukan oleh para peneliti di Dr Rajendra Pradsad Government Medical College di Kangra. Namun, para peneliti mengklarifikasi bahwa mereka sama sekali tidak mempromosikan sanitasi dan kebersihan yang buruk untuk pencegahan penyakit. Beberapa ahli menyarankan bahwa lockdown awal saat kasus Covid-19 masih sedikit telah membantu sistem perawatan kesehatan untuk mempersiapkan masuknya pasien dalam jumlah besar. Ini telah membantu India memberikan perawatan dan perawatan yang tepat untuk pasien Covid-19, seiring pertumbuhan infeksi di negara itu. Hal ini turut mengurangi beban kematian akibat Covid-19 di negara tersebut. India juga merupakan salah satu negara dengan populasi kaum muda tertinggi di dunia. Karena orang tua berisiko tinggi terkena infeksi parah dan kematian akibat Covid-19, beberapa ahli percaya bahwa rendahnya tingkat kematian akibat Covid-19 di negara tersebut juga dapat dikaitkan dengan demografinya. Sumber : https://republika.co.id/berita/qjcwg5414/sanitasi-buruk-warga-india-lebih-kebal-dari-covid19-parah