Preferensi Bergeser, Wisata Seperti Apa yang Kini Disukai

JAKARTA — Pandemi Covid-19 mendorong perubahan preferensi wisata masyarakat. Wisatawan kini punya minat dan perhatian yang berbeda mengenai tempat wisata, transportasi, akomodasi hingga kebersihan dibandingkan masa sebelum pandemi.Playvolume00:02/01:00INDONESIA JAKARTA May 2021 “Pada akhirnya, orang-orang akan memilih quality tourism,” kata Surana selaku Koordinator Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dalam webinar, Jumat. Sebelum pandemi, menurut Surana, banyak orang yang berwisata ke tempat ramai. Namun, kini ada pembatasan kapasitas pengunjung di atraksi wisata. Dari sisi transportasi, seperti pemilihan maskapai penerbangan, wisatawan sebelum pandemi akan memikirkan soal jumlah dan durasi transit serta harga penerbangan. Setelah pandemi, pertimbangannya adalah fasilitas sanitasi, waktu transit pendek, dan penerbangan langsung. Dari sisi preferensi produk, menurut Surana, atraksi ramai di perkotaan dan tur berisi kelompok besar banyak diminati. Kini, wisata kesehatan dan aktivitas di luar ruangan serta tur pribadi yang anggotanya tidak banyak lebih diminati. Sementara dari sisi akomodasi, wisatawan saat ini mementingkan soal sanitasi dan keamanan. Menurut Surana, mereka memilih tempat yang terpisah dari orang lain seperti vila atau resor. Sumber : https://www.harianaceh.co.id/2021/10/23/preferensi-bergeser-wisata-seperti-apa-yang-kini-disukai/

RM2.6 juta peruntukan sanitasi awam di Putrajaya

PUTRAJAYA: Sejumlah RM2.6 juta diperuntukkan untuk tujuan sanitasi awam membabitkan pusat pentadbiran kerajaan, di sini, bagi menangani penularan wabak COVID-19. Menteri Wilayah Persekutuan, Tan Sri Annuar Musa, berkata proses itu perlu kerap dilaksanakan kerana ia membabitkan tempat yang sering dikunjungi orang ramai membabitkan semua jabatan kerajaan, masjid, pusat beli belah serta kawasan awam. Beliau berkata, semalam Putrajaya mencacatkan sifar kes positif baharu COVID-19 dan pihaknya berhasrat mengekalkan angka itu supaya menjadi contoh negara luar. “Pihak berkuasa tempatan (PBT) perlu mempunyai perancangan dengan sentiasa menyediakan peruntukan khusus bagi operasi sanitasi awam terutama ketika negara berdepan gelombang ketiga pandemik ini,” katanya ketika sidang media Operasi Sanitasi Awam di Presint 4, di sini, hari ini.DISYORKAN UNTUK ANDA Operasi berkenaan dijalankan Kementerian Wilayah Persekutuan membabitkan 55 anggota Jabatan Bomba dan Penyelamat Malaysia (JBPM), Alam Flora Sdn Bhd, Perbadanan Putrajaya (PPj), SWCorp Malaysia dan Pejabat Kesihatan Daerah. Kerja sanitasi dijalankan di kawasan persekitaran bangunan menempatkan Kementerian Pembangunan Luar Bandar (KPLB), Kementerian Komunikasi dan Multimedia, Kementerian Perumahan dan Kerajaan Tempatan (KPKT) serta Kementerian Pembangunan Wanita, Keluarga dan Masyarakat. Mengulas peruntukan dimaksudkan, Annuar berkata ia untuk membeli bahan sanitasi serta kelengkapan perlindungan diri (PPE), selain elaun lebih masa untuk petugas barisan hadapan terbabit. Beliau berkata, sebanyak 600 Persatuan Penduduk di Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur dan Putrajaya sudah diberi peruntukan khas antara RM2,000 hingga RM3,000 untuk melaksanakan kempen kesedaran bagi meningkatkan pematuhan prosedur operasi standard (SOP) COVID-19. Sumber : https://www.bharian.com.my/berita/wilayah/2020/10/743620/rm26-juta-peruntukan-sanitasi-awam-di-putrajaya

46 Peserta Ikut Pelatihan Kebersihan Lingkungan, Sanitasi dan Pengelolaan Sampah di Destinasi Pariwisata Nagekeo

Mbay, Ekorantt.com – Setidaknya ada 46 peserta pengelolaan pariwisata mengikuti pelatihan kebersihan lingkungan, sanitasi dan pengelolaan sampah. Kegiatan yang digelar Dinas Pariwisata [Dispar] Nagekeo ini dilaksanakan di Kampung Wisata Pajoreja, Desa Ululoga, Kecamatan Mauponggo pada hari Kamis, [21/10/2021]. Kegiatan yang dilaksanakan selama 4 hari sejak 20-23 Oktober 2021 itu dipandu oleh Destination Management Organization [DMO] Flores yang berpusat di Ende. Kabid Kelembagaan dan Sumber Daya Pariwisata, Blasius M. Ajo Bupu, menyatakan bahwa salah satu sektor strategis dan potensial yang dimiliki Kabupaten Nagekeo adalah sektor pariwisata.
Kabupaten Nagekeo memiliki berbagai macam potensi pariwisata yang dikembangkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat antara lain daya tarik wisata alam, daya tarik wisata sejarah atau purbakala, wisata budaya, atraksi seni tradisional, penelusuran gua-gua peninggalan tentara Jepang. Pengembangan pariwisata dengan pendekatan partisipasi, kata Blasius, perlu mendapat perhatian terutama dalam konsep pembangunan pariwisata jangka panjang atau sering disebut dengan pariwisata berkelanjutan [sustainable tourism]. “Kabupaten Nagekeo termasuk 1 [satu]  dari 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Labuan Bajo-Flores yang sangat potensial sebagai daerah tujuan wisata,” tutur Blasius. Ia menuturkan bahwa peran stakeholders pariwisata dalam menggalakan program pelatihan kebersihan lingkungan sanitasi dan pengelolaan sampah di destinasi saat ini masih sangat sedikit dan belum memiliki dampak yang maksimal. Hal tersebut dikarenakan Sumber Daya Manusia [SDM)] di bidang  pariwisata belum memiliki skill pengelolaan. Padahal ini sangat urgen dilakukan sehingga wisatawan yang datang berkunjung dapat menikmati fasilitas yang di sediakan dalam keadaan bersih, sehat, indah dan mampu mengelolah sampah secara baik. Dikatakan pula bahwa pembinaan dan pelatihan SDM pariwisata perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk dan pelayanan wisata karena secara langsung akan menentukan mutu produk dan layanan wisata. Artinya peningkatan kualitas SDM menjadi salah satu kunci untuk memenangkan persaingan global yang semakin kompetitif. “Ini merupakan pelatihan yang ke-4 dari 7 pelatihan yang akan di laksanakan Dinas Pariwisata Kabupaten Nagekeo. Kegiatan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, motivasi dan kemampuan para pengelola daya tarik wisata dan desa wisata dalam melaksanakan kebersihan lingkungan, sanitasi  dan pengelolaan sampah,” kata Blasius. Cegah Stunting Wakil Bupati Nagekeo Marianus Waja mengatakan bahwa pariwisata menjadi salah satu sektor yang mendukung pencegahan stunting melalui kegiatan-kegiatan pelatihan dalam kegiatan yang on the spot tourism training. Dimana subjeknya adalah masyarakat yang langsung terlibat dalam menyediakan rumah sehat atau homestay, memperhatikan kebersihan rumah dan lingkungannya termasuk di dalamnya toilet yang sanitatif. Sehingga mampu diterjemahkan peserta di desa dan kelurahan masing-masing tentang cara hidup sehat, rumah yang bersih dan indah yang akan berdampak pada penurunan angka stunting. Marianus juga berharap agar kegiatan ini dapat berdampak baik kepada para peserta pelatihan. “Saya akan cek. Pelatihan ini harus punya dampak. Akan ada dampak tambahan pendapatan dari hasil kerja kita,” Sumber : https://ekorantt.com/2021/10/22/46-peserta-ikut-pelatihan-kebersihan-lingkungan-sanitasi-dan-pengelolaan-sampah-di-destinasi-pariwisata-nagekeo/