Sanitasi Bagi Si Miskin, Jangan Hanya Mimpi!

Di dunia saat ini, menurut catatan WHO (2006), hampir 2,6 miliar orang di dunia tidak memiliki akses terhadap sanitasi dasar dan 1,1 miliar orang kekurangan air bersih. Hal ini mengakibatkan orang miskin menjadi sakit akibat sanitasi yang buruk. Sangat sulit membayangkan kerugian yang terjadi jika kita sekeluarga sakit hanya gara-gara mengonsumsi air yang tidak sehat akibat sistem saluran pembuangan air limbah di lingkungan kita tidak benar. Bayangkan, bila hal itu terjadi pada sebagian besar penduduk Indonesia. Data BPS (2004) menyatakan bahwa proporsi rumah tangga di perkotaan yang menggunakan septic tank dan cubluk adalah 80,45 persen dan di perdesaan sebesar 57,26 persen (tidak mempertimbangkan kualitas sarana) dengan tingkat kepemilikan jamban keluarga di perkotaan 73,13 persen dan di perdesaan 53,1 persen. Sedangkan Kementerian Lingkungan Hidup (2003) menyatakan, hanya 11 kota yang memiliki sistem sanitasi perpipaan terpusat dan hanya 13,9 persen penduduk yang mendapatkan akses terhadap sistem sewerage (pengolah air limbah). Kemiskinan dan sanitasi Air dan sanitasi adalah hal utama di dalam proses pembangunan. Hal ini berkaitan erat dengan kesehatan, nutrisi, pendidikan, keluarga, peran wanita, dan lingkungan serta pengurangan kemiskinan. Tanpa ketepatan di dalam pengelolaan air dan akses terhadap air bersih dan sanitasi, pengurangan kemiskinan tidak akan terjadi. Kurangnya akses terhadap air bersih dan sanitasi akan mengakibatkan si miskin akan menjadi semakin menderita. Kenyataannya, beberapa tahun terakhir menurut Bappenas dan Water and Sanitation Program-East Asia and Pacific (WSP-EAP), pemerintah hanya menyediakan sekitar 820 juta dolar AS untuk sektor sanitasi. Anggaran ini sangatlah minim bila dibandingkan dengan anggaran sektor air bersih yang besarnya mencapai 6 miliar dolar AS untuk periode yang sama. Padahal, kedua sektor itu mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Rendahnya akses akan menimbulkan konsekuensi terhadap meningkatnya biaya dalam pengobatan sehingga masyarakat tidak bisa melakukan saving terhadap pendapatannya serta akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja yang cenderung akan menurun. Laporan Asian Development Bank (ADB) menyatakan, kerugian ekonomi yang terkait sanitasi yang buruk diperkirakan Rp 42,3 triliun per tahun atau setara dengan hilangnya pendapatan tiap rumah tangga Indonesia sebesar 100 ribu rupiah per bulannya. Angka kerugian ini akan semakin meningkat lagi bila dampak tidak langsung dari sanitasi yang buruk ikut diperhitungkan. Peningkatan akses terhadap air bersih dan sanitasi serta promosi higienitas akan meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat, perbaikan kualitas air, dan sanitasi. Selain itu, juga secara tidak langsung akan meningkatkan peluang peningkatan pendidikan. Di sektor ekonomi, peningkatan akses berarti juga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan pembangunan. Keuntungan pendapatan (baik bagi rumah tangga maupun pemerintah) akan berpengaruh terhadap pengurangan biaya kesehatan dan menambah produktivitas kerja karena waktu kerja yang selama ini berkurang digunakan oleh masyarakat untuk mengantre air menjadi lebih efektif digunakan untuk bekerja.yang pada akhirnya akan ikut membantu di dalam proses pengentasan kemiskinan. Bukan sekadar mimpi Bila dilihat kondisi sanitasi di Indonesia saat ini, tampak bahwa banyak persoalan yang harus segera dibenahi. Mulai dari persoalan sampah yang selama ini selalu menjadi ganjalan bagi kabupaten/kota dalam proses pengelolaannya, rendahnya prioritas pembangunan sektor sanitasi, serta kurangnya kebijakan dan peraturan sektor sanitasi hingga minimnya cakupan layanan fasilitas sanitasi. Sebenarnya hal ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, sebab rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kualitas sanitasi ditenggarai juga merupakan salah satu aspek semrawutnya persoalan sanitasi di Indonesia. Sudah saatnya, semua kebijakan lebih terintegrasi dan melibatkan partisipasi masyarakat disertai pengawasan yang ketat di dalam penerapannya. Ini semua bukan mimpi, tapi kenyataan yang harus dihadapi. Ketika kota-kota lain di Asia telah menggunakan sewerage system, sungguh ironis kita (warga Kota Bandung) masih senang menggunakan septic tank, padahal sewerage system sudah dikenal di Indonesia sejak tahun 1910-an dan PDAM Kota Bandung sendiri memiliki instalasi pengolahan air kotor yang terluas di Asia. Dengan sewerage system dan septic tank komunal yang berfungsi untuk mengumpulkan air tinja dari rumah-rumah dan mengolahnya sampai mencapai baku mutu efluen yang ditetapkan, septic tank tidak diperlukan lagi sehingga potensi pencemaran air tanah akan berkurang dan biaya pengolahan air tidak akan meningkat. Sewerage system terdiri dari sambungan rumah, saluran pengumpul, dan instalasi pengolahan. Identifikasi faktor kemiskinan yang berkaitan erat dengan ketersediaan air bersih dan sanitasi yang terperinci juga diperlukan, termasuk pertimbangan keadilan dan keberlanjutan. Keadilan adalah elemen penting bagi pengentasan kemiskinan, karena merupakan salah satu faktor yang mendorong masyarakat miskin mampu mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara, seperti pelayanan publik, akses pendanaan bagi pembuatan sistem sanitasi dasar, dan peningkatan kapasitas masyarakat. Banyak hal bisa dilakukan bagi peningkatan akses sanitasi untuk masyarakat miskin, di antaranya adalah pelibatan setiap stakeholder dari mulai proses perencanaan hingga pelaksanaan, kemudahan pendanaan, keefektifan penerapan sistem sanitasi, penerapan kebijakan dan peraturan-peraturan pendukung serta kehendak dari setiap individu untuk berbuat lebih baik lagi. Tugas utama pemerintah kabupaten dan kota adalah menyusun kebijakan tentang arah, rencana, dan target perbaikan sanitasi serta memastikan tidak terjadinya tumpang tindih dalam upaya perbaikan sanitasi yang ada. Semoga sanitasi bagi si miskin tidak hanya menjadi sekadar mimpi belaka. Sumber : http://www.ampl.or.id/digilib/read/sanitasi-bagi-si-miskin-jangan-hanya-mimpi-/22214

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *