Bank Dunia: Perbaikan Sanitasi Membantu Pengentasan Kemiskinan

Presiden Kelompok Bank Dunia Jim Yong Kim mengajak para pemimpin dunia untuk mengambil tindakan segera dalam penyediaan akses layanan sanitasi dasar untuk masyarakat, sebagai salah satu langkah untuk memerangi kemiskinan. Pernyataan ini diberikan menjelang Pertemuan Musim Semi Kelompok Bank Dunia-IMF. “Kita berada di sini hari ini untuk mencegah jutaan kematian yang tidak perlu – yang kebanyakan menimpa anak-anak miskin – yang diakibatkan oleh buruknya sanitasi,” ujar Kim pada pertemuan global dengan menteri-menteri keuangan, air dan sanitasi, dalam siaran pers Bank Dunia yang diterima suara.com, Sabtu (12/4/2014). Kim menggarisbawahi bahwa Kelompok Bank Dunia tidak akan berhasil mencapai tujuannya – mengentaskan kemiskinan ekstrim pada 2030 dan meningkatkan kesejahteraan 40% kalangan termiskin – tanpa memperbaiki kondisi sanitasi, yang terkait langsung dengan kemiskinan. “Kelompok Bank Dunia akan mengerahkan sumberdayanya baik dalam hal pembiayaan maupun dalam perbaikan layanan,” ungkap Kim. Diperkirakan sejumlah 2,5 miliar penduduk dunia tidak memiliki akses terhadap jamban layak atau sarana pembuangan limbah manusia. Ini termasuk 1 miliar penduduk yang melakukan buang air besar sembarangan (BABS) di sungai dan ladang, menyebarkan virus dan kuman dari tinja melalui makanan, air, dan pakaian. Keberjangkitan diare yang diakibatkan oleh hal tersebut menyebabkan kematian ribuan anak setiap harinya, dan dampak-dampak negatif lain, seperti terhambatnya pertumbuhan anak. Dampak-dampak ekonomi dari kematian, penyakit, dan kerugian industri dan lingkungan tidak kalah besarnya. Meski hampir 1,9 miliar penduduk dunia telah mendapatkan akses jamban layak sejak tahun 1990, sanitasi pada tingkat global tetap menjadi salah satu target Tujuan Pembangunan Milenium yang tidak tercapai sesuai harapan. Indonesia menghadapi tantangan besar dalam sanitasi dasar, dimana setengah dari populasi masyarakat perdesaan tidak memiliki akses sanitasi layak, dan dari 57 juta orang yang melakukan BABS, 40 juta diantaranya tinggal di perdesaan. Bank Dunia secara berkelanjutan telah mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan akses sanitasi, melalui proyek-proyek air bersih dan sanitasi yang menerapkan pendekatan programatik skala kabupaten/kota. “Pendekatan ini memperkuat lembaga-lembaga pemerintah daerah dan menggalang kerjasama antar para pemangku kepentingan untuk mewujudkan perubahan perilaku sanitasi dan peningkatan pasokan produk-produk sanitasi melalui penguatan pasar. Pendekatan berbasis kabupaten/kota seperti ini akan membantu Indonesia mencapai target cakupan sanitasi 100%,” ujar Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo Chaves. Sumber : https://www.suara.com/bisnis/2014/04/12/130954/bank-dunia-perbaikan-sanitasi-membantu-pengentasan-kemiskinan

Studi: Sanitasi Buruk Lebih Mematikan Ketimbang AIDS

Suara.com – Kanker payudara dan AIDS seringkali menjadi momok yang mematikan bagi perempuan. Tapi nyatanya sebuah penelitian justru mengungkap bahaya sanitasi buruk lebih mematikan dibanding dua kasus di atas. Dalam penelitian yang dilakukan oleh WaterAid, sebuah organisasi yang bergerak untuk mengatasi masalah akses air bersih, disebutkan bahwa sanitasi merupakan hal penting yang menjadi corong untuk setiap kehidupan. Peneliti menghubungkan kasus kematian perempuan saat melahirkan, kurang gizi hingga pertikaian rumah tangga dengan akses air bersih di lingkungannya. Hasilnya pun sangat mencengangkan. Sebanyak 800 ribu perempuan setiap tahun meninggal, utamanya disebabkan karena gangguan pencernaan yang berkaitan dengan akses air bersih yang sulit. Selain itu, temuan juga menunjukkan bahwa sanitasi yang buruk bisa meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan (ISPA) dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) pada perempuan. Barbara Frost selaku CEO waterAid mengatakan bahwa akses air bersih dan sanitasi memainkan peranan penting terhadap tingkat kematian ibu dan bayi di negara berkembang. Pasalnya akses air bersih yang sulit di beberapa negara berkembang kerap memicu infeksi saat perempuan melahirkan. “Edukasi tentang pentingnya akses mendapatkan air bersih harus terus digalakkan. Jangan sampai menunggu lebih banyak lagi kematian yang sia-sia,” kata Barbara. Menurut data yang dihimpun WaterAids, sebanyak 1 miliar perempuan di dunia tidak memiliki akses sanitasi yang baik. Sedangkan 370 juta jiwa hingga kini belum mendapatkan akses untuk air bersih. Sumber : https://www.suara.com/health/2015/03/08/174052/studi-sanitasi-buruk-lebih-mematikan-ketimbang-aids

Atasi Banjir, HELP Bahas Tentang Sanitasi

Pertemuan High-level Expert and Leaders Panel on Water and Disasters (HELP) yang berlangsung 31 Oktober dan 1 November 2016 di Indonesia akan menghasilkan rekomendasi yang akan diserahkan kepada Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Bangsa-bangsa (PBB). Rekomendasi tersebut terkait penanganan bencana khususnya bencana terkait air seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, tsunami untuk selanjutnya disebarkan kepada kepala negara dunia, sebagai komitmen global dan diimplementasikan di negara masing-masing. “Rekomendasi HELP akan diberikan pada Sekjen PBB dan akan disebarkan kepada para kepala Negara, sebagai komitmen global supaya dapat mengimplementasikan di Negara masing-masing khususnya mengenai bencana-bencana yang berhubungan dengan air seperti banjir, tsunami, kekeringan dan tanah longsor agar menjadi kebijakan di negaranya masing-masing,” tutur Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono disela pertemuan ke-8 HELP hari ke-2 di Jakarta, Selasa (1/11/2016). HELP sendiri didirikan untuk membantu komunitas internasional, pemerintahan dan pemangku kepentingan dalam memobilisasi dukungan politik dan sumber daya. Oleh karena itu, kata Basuki, penting sekali untuk mempromosikan tindakan nyata dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat, memastikan koordinasi dan kolaborasi menetapkan tujuan dan sasaran umum, memantau kemajuan, dan mengambil langkah-langkah efektif yang ditujukan dalam mengatasi berbagai masalah air dan bencana.Pemda Didorong Sediakan Aset Tanahnya untuk Perumahan Subsidi Pertemuan HELP hari ke dua ini membahas mengenai pembiayaan untuk mengatasi bencana air, panel tingkat tinggi tentang air dan sanitasi, pengalaman khusus dari Korea, Belanda, Dewan Air Dunia dan dari Negara-negara ASEAN termasuk Indonesia dalam menghadapi bencana, serta teknologi terbaru dan pengetahuan ilmiah akan air dan bencana. “Selain itu juga dibahas evaluasi dampak lingkungan di wilayah sungai atau daerah aliran sungai untuk melindungi kehidupan dan aktivitas manusia, serta untuk memastikan keberlanjutannya terutama di kota-kota di mana sebagian besar penduduknya tinggal di wilayah sungai,” tambah Menteri Basuki. Sementara itu, Mantan Perdana Menteri Republik Korea Han Seung Soo yang menjadi Chairman HELP mengatakan bahwa bencana Tsunami Aceh 2004 dan rekonstruksi bencana yang dilaksanakan oleh Indonesia menjadi salah satu alasan kenapa pertemuan kali ini dilaksanakan di Indonesia. “Setiap tahunnya kami melakukan dua atau tiga pertemuan di beberapa Negara di dunia, pertemuan sebelumnya dilaksanakan di Rotterdam (Belanda) dan selanjutnya akan dilaksanakan di Tiongkok,” tutur Han. Selain menggelar pertemuan pada tanggal 31 Oktober – 1 November 2016, anggota HELP nantinya akan diajak untuk mengunjungi Aceh pada 2-3 November 2016 sebagai contoh dari wilayah yang berhasil bangkit dari bencana yang disebabkan oleh air. Saat ini anggota HELP terdiri dari 34 orang anggota yang berasal dari 18 negara, dimana terdapat 6 orang anggota yang setara dengan level menteri yaitu Menteri PUPR Republik Indonesia Basuki Hadimuljono, Mantan Perdana Menteri Republik Korea (Selatan) Han Seung –Soo, Menteri Infrastruktur dan Lingkungan Belanda Schultz van Haegen, Menteri Air dan Irigasi Tanzania Gerson Lwenge, Wakil Menteri Infrastruktur, Transporatasi dan Pariwisata Jepang Masafumi Mori dan Komandan Jenderal Angkatan Darat US Letjen Todd T. Semonite. Sumber : https://www.suara.com/bisnis/2016/11/02/090937/atasi-banjir-help-bahas-tentang-sanitasi