Demi Kebersihan dan Kesehatan Kulit, Haruskah Kita Mandi Setiap Hari?

Mandi mungkin menjadi rutinitas sehari-hari. Umumnya, orang mandi dua kali dalam sehari. Namun, tak sedikit pula yang mandi hanya satu kali sehari. Bahkan, orang yang memiliki masalah kulit terkadang hanya disarankan dokter untuk menyeka tubuh saja. Sebenarnya, haruskan kita mandi setiap hari? Menurut dokter kulit Shilpi Khetarpal, tidak ada aturan khusus yang mewajibkan kita untuk mandi setiap hari. Orang yang sering berolahraga mungkin perlu mandi lebih sering daripada orang yang jarang berkeringat. Namun, umumnya manusia disarankan untuk mandi minimal satu kali setiap hari. “Kami bersentuhan dengan ribuan alergen setiap hari. Mandi membilas alergen tersebut, serta bakteri dan virus,” kata Khetarpal. Kita juga tidak disarankan untuk mandi terlalu sering karena bisa mengikis kelembaban kulit. “Ada orang yang mandi hingga tiga kali sehari. Sebenarnya, itu hal yang tidak perlu karena bisa membuat kulit kering dan iritasi,” tambah Khetarpal. Bahaya malas mandi Meski mandi terlalu sering bisa membuat kulit kering, jarang mandi juga bisa memicu berbagai masalah. Selain membuat aroma tubuh menjadi tidak enak, jarang mandi bisa membuat kita mengalami hal berikut: 1. Jerawat Minyak alami pada kulit dapat menumpuk dan menyebabkan pertumbuhan berlebih dari bakteri penyebab jerawat. Kotoran dan kulit mati juga bisa menumpuk dan menyumbat pori-pori. 2. Eksim Jarang mandi bisa membuat kulit kotor. Pdahal, eksim yang kering, gatal, dan merah lebih cenderung muncul saat kulit tidak bersih. Karena itu, penderita eksim disarankan untuk mandi setiap hari agar alergen dan bakteri di tubuh menghilang. 3. Ketombe Saat mandi, kita otomatis menyiram kepala dengan air. Hal ini juga membantu menghilangkan minyak dan kotoran di rambut. Jika kotoran dan minyak itu menumpuk, kepala bisa iritasi dan ditumbuhi ragi sehingga memicu terbentuknya ketombe. Tips mandi sehat Cara kita mandi juga turun menentukan kesehatan kulit. Berikut tips mandi agar kulit tetap bersih dan sehat: 1. Hindari mandi dengan air terlalu panas Air yang sangat panas bisa membuat kulit Anda kering dan gatal. Jika ingin relaksai, Anda bisa mandi dengan air hangat. 2. Hindari wewangian Wewangian menghilangkan kelembapan dari kulit, jadi hindari sabun dan sabun yang berbau harum. 3. Fokus pada bagian yang bau Umumnya, satu-satunya area yang perlu dicuci dengan sabun adalah wajah, ketiak, dan sela-sela paha. 4. Gunakan pelembab Setelah mandi, Anda harus mengoleskan pelembab bebas pewangi. Gunakan pelembab dalam waktu tiga menit untuk memerangkap kelembapan di kulit dan menjaga kulit tetap sehat. Sumber : https://health.kompas.com/read/2022/03/15/080000068/demi-kebersihan-dan-kesehatan-kulit-haruskah-kita-mandi-setiap-hari-?page=all

BREAKING NEWS: Sampah Menumpuk, Petugas Kebersihan Banggai Belum Gajian Sejak Januari

Kebersihan di Kota Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah akhir-akhir ini dikeluhkan masyarakat. Sampah menumpuk di tepi jalan dan bau menyengat mengganggu kenyamanan warga. Tak hanya di tepi jalan, sampah juga menumpuk di gang-gang pemukiman, pasar, hingga kantor pemerintahan. Hal itu karena Upah Petugas Kebersihan belum dibayar sejak Januari 2022. Keluhan itu disampaikan seorang Petugas Kebersihan saat membersihkan sampah di Teluk Lalong. Di sisi lain, mereka juga harus memenuhi kebutuhan keluarga untuk hidup. Akhirnya, mereka terpaksa harus mencari pekerjaan harian lain untuk dapat menopang kebutuan hidup keluarga. Dampaknya, terkadang sampah tak terangkut dan menumpuk. “Tidak tahu alasannya kenapa, tapi dari Januari torang belum gajian,” keluhnya, Senin (7/3/2022). Sementara itu, Kabid Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banggai, Baharuddin mengaku keterlambatan pembayaran gaji bukan hanya dialami DLH, tapi semua dinas di Kabupaten Banggai. “Untuk masalah gaji semua dinas sekarang belum ada yang terima (gaji), masalahnya dari BPKAD belum ada pencairan,” katanya.(*) Sumber : https://palu.tribunnews.com/2022/03/07/breaking-news-sampah-menumpuk-petugas-kebersihan-banggai-belum-gajian-sejak-januari

Dinkes: 17 kecamatan di Lebak endemik penularan DBD

Sebanyak 17 kecamatan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, dinyatakan sebagai wilayah endemik penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD). “Dari 17 kecamatan itu tercatat 195 orang teridentifikasi positif DBD dan empat di antaranya dilaporkan meninggal dunia, ” kata Kepala Seksi Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Rohmat di Lebak, Senin. Masyarakat yang terdampak penularan penyakit DBD tersebut akibat buruknya kebersihan lingkungan di masyarakat dan berpotensi berkembangbiak nyamuk Aedes Aegepty. Selain itu juga kondisi masyarakat yang tinggal di permukiman padat penduduk. Saat ini, kata dia, daerah endemik penularan DBD di Lebak tercatat 195 orang tersebar di 17 kecamatan yaitu Rangkasbitung 89 kasus (4 meninggal), Cibadak 33 kasus, Kalanganyar 15 kasus, Cibeber 8 kasus, dan Cimarga 7 kasus. Wilayah lainnya Kecamatan Warunggunung 8 kasus, Sajira 6 kasus, Maja 7 kasus, Curugbitung 4 kasus, Cileles 4 kasus, Cipanas 4 kasus, Sobang 2 kasus, Cikulur 1 kasus, Bojongmanik 1 kasus, Bayah 2 kasus, Leuwidamar 2 kasus dan Malingpng 2 kasus. Selama ini, kata dia, kasus angka penularan DBD di Lebak cukup signifikan menyusul tibanya musim hujan. Karena itu, pihaknya tidak henti-hentinya menyosialisasikan dan edukasi untuk pencegahan penyakit DBD agar tidak menimbulkan kasus kejadian luar biasa (KLB). Penyebaran DBD itu akibat lingkungan yang tidak bersih sehingga berkembangbiaknya nyamuk pembawa virus DBD. Dengan demikian, masyarakat harus berperan aktif untuk mengoptimalkan budaya gotong royong dengan melaksanakan kegiatan kebersihan lingkungan dan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan menutup, membakar dan mengubur ( 3M). Selain itu juga, pemberian abatesasi untuk membunuh jentik-jentik nyamuk DBD. Sebab, ujarnya, tindakan pengasapan atau fogging dinilai belum efektif untuk memutus mata rantai penyebaran DBD. “Saya yakin melalui PSN dan 3M dapat mematikan jentik-jentik nyamuk, sehingga terbebas dari penyebaran penyakit yang bisa mematikan itu,” katanya. Ia mengatakan, penyebaran DBD di Kabupaten Lebak patut diwaspadai karena diperkirakan tahun ini menjadi siklus lima tahunan. Sepanjang Januari- Maret 2022 tercatat sebanyak 195 orang terserang DBD dan empat orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia. Apalagi, perkirakan BMKG beberapa bulan ke depan curah hujan cukup tinggi dengan intensitas lebat, ringan dan sedang. Curah hujan menimbulkan genangan-genangan di antaranya di tempat barang-barang bekas, bak mandi, kolam ikan, dan lainnya. “Biasanya, nyamuk DBD itu berkembang biak pada genangan air bersih itu,” jelasnya. Sumber : https://banten.antaranews.com/berita/211089/dinkes-17-kecamatan-di-lebak-endemik-penularan-dbd