Jamban Sehat

Pencemaran air adalah masuknya atau di masukannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkanya (PP No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air). Pencemaran air oleh virus, bakteri patogen, dan parasit lainnya atau oleh zat kimia dapat terjadi pada sumber air   ataupun terjadi pada saat pengolahan air tersebut.  Beberapa mikroba patogen biasanya ditemukan di dalam air limbah domestik dan  menjadi agen penyebab pencemaran air adalah bakteri, virus . Mikroba patogen yang sering ditemukan di dalam air terutama adalah bakteri-bakteri penyebab infeksi saluran pencernaan seperti Vibrio cholerae penyebab penyakit kolera, Shigella dysenteriae penyebab disenteri basiler, Salmonella typosa penyebab tifus dan S. paratyphi penyebab paratifus, virus polio dan hepatitis, dan Entamoeba histolytica penyebab disentri amuba. Salah satu faktor penting yang menyebabkan pencemaran   air /sumber air   yaitu sarana pembuangan kotoran / jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Hal tersebut menyebabkan air sumur tidak lagi  memenuhi syarat kesehatan terutama dari segi bakteriologis. Untuk mencegah penyebaran penyakit melalui air perlu dilakukan pengendalian terhadap sumber-sumber pencemar air yaitu dengan cara penggunaan jamban sehat.  Jamban sehat efektif untuk memutus mata rantai penularan penyakit. Oleh karena itu, penting sekali mengetahui bagaimana membuat jamban yang sehat. Seperti apa  jamban sehat itu? Berdasarkan Permenkes No. 3 Tahun 2014 tentang STBM bahwa kondisi jamban yang saniter merupakan kondisi fasilitas sanitasi yang memenuhi standar dan persyaratan kesehatan yaitu: a.  Tidak mengakibatkan terjadinya penyebaran langsung bahan-bahan yang berbahaya bagi manusia akibat pembuangan kotoran manusia; dan b.  Dapat mencegah vektor pembawa penyakit untuk menyebarkan penyakit pada pemakai dan lingkungan sekitarnya. Jamban sehat harus dibangun, dimiliki, dan digunakan oleh keluarga dengan penempatan (di dalam rumah atau di luar rumah) yang mudah dijangkau oleh penghuni rumah. Standar dan persyaratan kesehatan bangunan jamban terdiri dari : a)  Bangunan atas jamban (dinding dan/atau atap) Bangunan atas jamban harus berfungsi untuk melindungi pemakai dari gangguan cuaca dan gangguan lainnya, terbuat dari bahan yang kuat, pencahayaan dan ventilasi cukup, serta pintu membuka keluar. b)  Bangunan tengah jamban Terdapat 2 (dua) bagian bangunan tengah jamban, yaitu: –  Lubang tempat pembuangan kotoran (tinja dan urine) yang saniter dilengkapi oleh konstruksi leher angsa. Pada konstruksi sederhana (semi saniter), lubang dapat dibuat tanpa konstruksi leher angsa, tetapi harus diberi tutup. –  Lantai Jamban terbuat dari bahan kedap air, tidak licin, dan mempunyai saluran untuk pembuangan air bekas ke Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL). c)  Bangunan Bawah Merupakan bangunan penampungan, pengolah, dan pengurai kotoran/tinja yang berfungsi mencegah terjadinya pencemaran atau kontaminasi dari tinja melalui vektor pembawa penyakit, baik secara langsung maupun tidak langsung. Terdapat 2 (dua) macam bentuk bangunan bawah jamban, yaitu: –  Tangki Septik, adalah suatu bak kedap air yang berfungsi sebagai penampungan limbah kotoran manusia (tinja dan urine). Bagian padat dari kotoran manusia akan tertinggal dalam tangki septik, sedangkan bagian cairnya akan keluar dari tangki septik dan diresapkan melalui bidang/sumur resapan. Jika tidak memungkinkan dibuat resapan maka dibuat suatu filter untuk mengelola cairan tersebut. –  Cubluk, merupakan lubang galian yang akan menampung limbah padat dan cair dari jamban yang masuk setiap harinya dan akan meresapkan cairan limbah tersebut ke dalam tanah dengan tidak mencemari air tanah, sedangkan bagian padat dari limbah tersebut akan diuraikan secara biologis. Sumber : https://www.dinkes.jogjaprov.go.id/berita/detail/jamban-sehat-jamban-sehat-jamban-sehat

Sekolah di Jabar Kurang Jamban

Kondisi sanitasi di sekolah-sekolah yang ada di Jawa Barat jauh dari standar nasional. Ini terlihat dari rasio toilet (jamban) yang ada di sekolah Jawa Barat mencapai angka 1:150, atau satu kamar mandi untuk 150 siswa. Sementara rasio ideal penyediaan toilet di sekolah adalah 1:60 untuk laki-laki, dan 1:50 untuk perempuan. Adapun rasio rata-rata nasional juga menunjukkan angka yang tidak ideal yakni 1:90. Water, Sanitation and Hygiene (WASH) Specialist, UNICEF, Reza Hendrawan menuturkan selain Jawa Barat rasio tertinggi lainnya juga ditemukan di DKI Jakarta. “Dari data yang kami temukan di lapangan, penyebaran rasio di setiap provinsi tidak merata. Dan rasio 1:150 ini ada di Jawa Barat dan DKI Jakarta. Namun memang di semua provinsi di Indonesia, belum ada satupun provinsi yang mampu mencapai rasio ideal untuk sanitasi tersebut (1:50 dan 1:60),” ujarnya ketika ditemui seusai diskusi ‘Generasi Berkualitas Dimulai dari Sanitasi Sekolah”, di Gedung Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Selasa, 8 November 2016. Rasio yang begitu tinggi tersebut mencerminkan masih kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap kualitas sanitasi di sekolah. Padahal, sanitasi yang baik dan berkualitas sangat memiliki dampak yang signifikan pada perkembangan karakter peserta didik. Reza menjelaskan terdapat sejumlah kendala yang dihadapi Jawa Barat dan DKI Jakarta sehingga angka rasio sanitasi terkait toilet di sekolah sangat tinggi. Diantaranya adalah kendala lahan sehingga sarana toilet tidak bisa ditambah, hingga jumlah siswa yang memang sangat tinggi. Rasio ideal untuk toilet atau jamban di sekolah diatur dalam Permendikbud Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk SD/MI), SMP/MTS dan SMA/MA. Selain rasio, dalam Permendikbud tersebut juga diatur bahwa luas minimum 1 unit jamban adalah 2 meter persegi, dan tersedia air bersih di setiap unitnya. Reza menjelaskan, sekolah di Indonesia masih menghadapi masalah pada rendahnya akses pada air yang aman, sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah. Berdasarkan data fasilitas sanitasi sekolah melalui Data POkok Pendidikan (Dapodik) Tahun 2014, hanya 65% sekolah di Indonesia yang memiliki jamban terpisah antara siswa laki-laki dan perempuan. Selain itu total fasilitas sanitasi di sekolah yang ada hanya 22% dilaporkan berada dalam kondisi baik, atau hanya 1 dari 4 sekolah yang memiliki sanitasi sekolah yang layak. “Butuh komitmen yang kuat untuk menjadikan isu sanitasi ini sebagai prioritas utama pemerintah. Baik pusat maupun daerah. Karena meskipun sederhana, namun dampaknya sebenarnya sangatlah besar terhadap peserta didik,”ujarnya. Fasilitas sanitasi sekolah bahkan menjadi salah satu capaian dalam indikator tujuan dalan Sustainable Development Goals (SDG) yang ditetapkan UNESCO. Karena itu, dia menuturkan, pihaknya ikut mendorong pemerintah Indonesia untuk bisa mencapai target kondisi sanitasi sekolah yang ideal pada 2030 mendatang, sesuai target SDG. Sumber : https://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/pr-01267209/sekolah-di-jabar-kurang-jamban-384273

Curhat Warga Lebak Pakai Jamban di Atas Getek Gegara Air PAM Sering Mati

Warga di Lebak, Banten, bercerita soal jamban di atas getek yang sering digunakan warga untuk mandi dan buang air besar. Warga sering menggunakan jamban yang berada di atas sungai itu karena air PAM sering mati. Jamban itu berada di Sungai Ciujung. Jamban tersebut terlihat jelas dari Jembatan Dua, Jalan Jendral Ahmad Yani, Rangkasbitung, yang merupakan akses menuju pusat pemerintahan Kabupaten Lebak di Rangkasbitung. Jamban di atas getek itu biasanya disebut sebagai getek tampian. Warga setempat, Junaedi, mengatakan getek tampian sering digunakan warga untuk mandi dan BAB. “Mandi, buang air, nyuci, ada juga yang manfaatin buat air minum. Saya sendiri kadang-kadang mandi di sini,” kata Junaedi di sekitar lokasi, Senin (28/3/2022). Polisi Ungkap Suami di Serang Jual Istri ke Pria Hidung Belang Lewat MiChat Dia mengatakan air dari PAM sering mati. Dia juga menyebut air PAM juga berasal dari sungai tersebut. “Yang punya kamar mandi juga sering ke sini (sungai), karena air PAM-nya suka mati. Lagi pula, air PAM kan dari sini juga (Sungai Ciujung) cuma bedanya diolah, dikasih kaporit, mending dari sini langsung alami,” tuturnya. Dia mengatakan banyak warga yang mengalami gatal-gatal gara-gara memakai air sungai itu. Dia menyebut hal itu terjadi karena sungai sudah tercemar sampah dan limbah. “Sekarang-sekarang kalau mandi di sini kadang-kadang suka gatal. Mungkin karena sudah tercemar, dari limbah, dari sampah, dari macam-macam,” jelasnya. “Di sini nggak semuanya sih, sebagian doang yang masih pakai getek. Kampung Lebak Picung dan Lebak Pasar pun juga masih banyak yang pakai getek untuk mandi,” tuturnya. Sumber : https://news.detik.com/berita/d-6004366/curhat-warga-lebak-pakai-jamban-di-atas-getek-gegara-air-pam-sering-mati